Masih Muda tapi Leher Jompo

  • 17 Apr 2026 09:41 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Kebiasaan doom scrolling atau menggulir layar HP berjam-jam tanpa henti ternyata tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan mental, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi fisik anak muda. Baru-baru ini, dr. Tirta Mandira Hudhi mengungkap sebuah tren medis yang cukup mengejutkan, semakin banyak anak muda usia 20-an yang terkena saraf kejepit di area leher (servikal).

Fakta ini diungkapkan dr. Tirta melalui kanal YouTube MALAKA, berdasarkan diskusi medisnya bersama para pakar tulang belakang (spine).

Penyakit Lansia yang Kini Menyerang Anak Muda

Secara medis, saraf kejepit (HNP) pada area leher biasanya diderita oleh lansia berusia 50 tahun ke atas karena faktor penuaan dan pengeroposan tulang . Namun, gara-gara postur menunduk terus-menerus saat main HP, penyakit ini sekarang menyerang anak muda.

"Beliau (dr. Mahdian, Spesialis Bedah Saraf) ngomong bahwa ada tren saraf kejepit di servikal 5 dan 6 dikarenakan anak muda yang main gadget," ujar dr. Tirta. Bahkan, dr. Adam Mulyono, Sp.OT (K) Spine dari RS UGM menyebutkan bahwa ia pernah menangani pasien saraf kejepit yang masih berusia 20 tahun .

Postur menunduk menatap layar HP ternyata memberikan kompresi atau tekanan terus-menerus pada ruas tulang leher C5 dan C6. Jika dibiarkan, bantalan saraf akan tertekan dan menjepit saraf di sekitarnya .

Jangan Sepelekan Tanda-Tandanya!

Dalam penjelasannya, dr. Tirta membeberkan tahapan gejala saraf leher kejepit yang wajib diwaspadai:

Tahap 1 (Gejala Sensorik Awal): Sering sakit kepala bagian belakang, leher terasa kaku (tengengen), dan pegal yang tak kunjung hilang di area pundak .

Tahap 2 (Gejala Sensorik Lanjut): Rasa nyeri semakin hebat, disertai sensasi panas seperti terbakar di pundak, serta tangan yang sering kesemutan (geringgingen).

Tahap 3 (Gejala Motorik): Jika dibiarkan, saraf akan semakin gepeng dan melemahkan fungsi gerak. Ciri khasnya, tangan kehilangan tenaga untuk menggenggam, sehingga penderita sering tanpa sadar menjatuhkan barang seperti gelas atau piring.

Bukan Cuma Tulang, Otak Juga Kena Imbasnya

Selain saraf kejepit, doom scrolling video-video pendek (seperti Reels, Shorts, atau TikTok) juga menghancurkan rentang perhatian (attention span). Menurut dr. Tirta, kebiasaan ini memicu gangguan konsentrasi parah, di mana rata-rata orang kini kesulitan fokus pada konten yang durasinya lebih dari 8 detik .

Ditambah lagi, kebiasaan scrolling sebelum dan sesudah tidur juga merusak siklus deep sleep dan Rapid Eye Movement (REM), membuat tubuh selalu terasa lelah saat bangun pagi .

Solusi: Kurangi 'Screen Time' dan Rajin 'Stretching'

Bagi kamu yang pekerjaannya memang menuntut untuk selalu menatap layar, dr. Tirta memberikan solusi praktis. Setiap 30 menit menatap layar, biasakan untuk berdiri dan melakukan stretching (peregangan) ringan pada area leher, tangan, dan hamstring agar postur tubuh tidak statis .

Selain itu, hindari kebiasaan bermain HP sambil tiduran di kasur, apalagi dengan bantal yang ditumpuk ganda.

Sudah saatnya anak muda berhenti bangga dengan julukan "remaja jompo". Batasi screen time, rajin baca buku untuk melatih konsentrasi, dan jaga postur tubuh sebelum berakhir di meja operasi endoskopi!

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....