Intermittent Fasting, Metode Diet tanpa Hitung Kalori Ketat
- 27 Mar 2026 22:10 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Metode intermittent fasting semakin dikenal sebagai pola makan yang menitikberatkan pada pengaturan waktu makan dan puasa.
Cara ini dilakukan dengan membagi periode tertentu untuk makan dan periode lainnya untuk tidak mengonsumsi kalori. Pendekatan tersebut dinilai berbeda dari diet konvensional yang umumnya berfokus pada pembatasan jenis makanan.
Mengutip alodokter.com, intermittent fasting diyakini memiliki berbagai manfaat bagi tubuh, mulai dari membantu menurunkan berat badan hingga menjaga kestabilan kadar gula darah.
Pola makan ini memberi kesempatan tubuh menggunakan cadangan energi secara lebih efisien ketika asupan makanan dihentikan sementara. Kondisi tersebut membuat tubuh beradaptasi terhadap ritme energi yang berbeda.
Tidak seperti diet yang mewajibkan perhitungan kalori secara ketat, intermittent fasting dianggap lebih fleksibel karena pelakunya tetap dapat mengonsumsi makanan favorit dalam waktu makan yang telah ditentukan.
Hal ini membuat metode tersebut lebih mudah diterapkan oleh sebagian orang dalam aktivitas sehari-hari.
Fleksibilitas ini juga menjadi salah satu alasan mengapa pola makan tersebut banyak diminati.
Selain membantu pengelolaan berat badan, pola makan berbasis waktu ini juga memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat.
Saat tubuh tidak terus-menerus menerima makanan, organ pencernaan bekerja lebih teratur dalam memproses cadangan energi.
Proses tersebut diyakini berkontribusi terhadap efisiensi metabolisme tubuh.
Meski demikian, intermittent fasting bukan sekadar menunda waktu makan tanpa aturan.
Setiap orang dapat mengalami respons tubuh yang berbeda saat menjalani metode ini, tergantung kondisi kesehatan, aktivitas, dan kebutuhan energi harian.
Karena itu, pemahaman mengenai jenis-jenis pola puasa menjadi hal yang penting sebelum memulai.
Penerapan intermittent fasting sebaiknya dilakukan dengan cara yang aman dan nyaman.
Efek samping seperti lemas, lapar berlebihan, atau sulit berkonsentrasi dapat muncul pada tahap awal bila tubuh belum terbiasa.
Karena itu, penyesuaian bertahap dan pola makan seimbang tetap diperlukan agar manfaat metode ini dapat dirasakan secara optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....