Puasa Intermiten Meringankan Penyakit Crohn, Temuan Uji Klinis

  • 03 Mar 2026 08:40 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Uji klinis baru menunjukkan puasa intermiten dapat meringankan gejala penyakit Crohn. Dalam tiga bulan, frekuensi buang air besar pasien turun 40 persen dengan pola makan delapan jam.

Peneliti melaporkan temuan ini pada Senin, 9 Februari 2026, di jurnal Gastroenterology. Nyeri perut pasien juga berkurang sekitar setengah selama puasa terbatas waktu.

Peneliti senior Dr. Maitreyi Raman menyebut hasilnya menunjukkan perbaikan gejala yang signifikan. Ia juga menyoroti perubahan metabolisme, peradangan, dan bakteri usus yang menjanjikan. Raman menilai temuan ini dapat membantu pasien menjaga remisi jangka panjang.

Penyakit Crohn adalah radang usus yang dapat merusak bagian mana pun saluran pencernaan. Gejala utamanya meliputi diare, kekurangan gizi, serta nyeri atau kram perut.

Tim merekrut 35 orang dewasa dengan penyakit Crohn yang kelebihan berat badan atau obesitas. Sebanyak 20 peserta diacak ke kelompok puasa intermiten, sementara sisanya menjalani diet biasa.

Kelompok puasa tidak diminta mengurangi kalori selama penelitian berlangsung. Mereka hanya membatasi waktu makan menjadi delapan jam setiap hari.

BACA JUGA: Ini Manfaat Diet Intermittent Fasting Bagi Tubuh

Setelah 12 minggu, kelompok puasa turun sekitar 5,5 pon. Kelompok diet biasa justru naik berat badan sekitar 3,7 pon.

Puasa terbatas waktu juga menurunkan lemak tubuh dan penanda darah terkait peradangan. Peneliti juga melihat peningkatan keanekaragaman bakteri usus pada kelompok puasa.

Raman berkata penurunan berat badan penting, tetapi manfaat puasa tidak berhenti pada timbangan. Ia menilai waktu makan mungkin berperan unik bagi pencernaan dan sistem imun.

Peneliti utama Natasha Haskey mengatakan pasien Crohn sering mencari alat praktis pendamping pengobatan. Ia menyebut pola makan terbatas waktu mungkin menjadi pilihan berkelanjutan berbasis biologi. Haskey menilai pendekatan itu memberi pasien lebih banyak kendali atas kesehatannya.

Namun, peneliti menekankan studi yang lebih besar masih diperlukan.nMereka ingin mengonfirmasi temuan ini serta menilai keamanan jangka panjang puasa intermiten.

Temuan ini menunjukkan pengaturan waktu makan dapat menjadi pendamping terapi, bukan pengganti pengobatan. Pasien tetap perlu mengikuti evaluasi dokter saat mempertimbangkan perubahan pola makan.

Hasil uji klinis ini membuka opsi baru yang sederhana bagi pasien dengan gejala Crohn. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tiap pasien.

Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....