Apakah Penderita Hoarding Disorder Bisa Sembuh?
- 28 Feb 2026 12:24 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Ditengah gaya hidup yang konsumtif karena mudahnya belanja online, standar di media sosial mendorong kondisi dimana seseorang mengalami hoarding disorder. Kondisi tersebut merupakan gangguan dimana ketika individu kesulitan bahkan secara ekstrem untuk membuang suatu barang. Bahkan ketika barang itu sudah tidak bernilai, lantaran rasa cemas yang berlebih.
Namun apakah orang dengan hoarding disorder itu bisa sembuh?. pertanyaan ini pun dijawab oleh Psikolog Robik Anwar Dhani, M.Psi., Psikologi, yang juga merupakan Dosen Prodi Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun kepada RRI Madiun.
Robik mengungkapkan bahwa, ada banyak kisah inspiratif, dimana banyak yang berhasil sembuh atau bisa meminimalisir kondisi gangguan hoarding disorder. Ya, ada banyak! salah satunya seorang ibu di Jepang yang setelah terapi, mampu mengurangi 80% barang di rumahnya," ungkap Robik.
Bahkan, si ibu tadi juga mengaku hidupnya lebih tenang dan hubungan dengan keluarganya menjadi membaik. Kuncinya disini adalah konsistensi dan dukungan sosial.
Langkah- langkah yang dapat dilakukan ketika seseorang dihadapkan pada kondisi hoarding disorder. Pertama dalam penjelasan yang disampaikan Dosen Psikologi tersebut adalah dengan decluttering atau membersihkan serta merapikan barang.
Hal tersebut tentu dapat menjadi langkah awal, tapi harus dilakukan secara bertahap dan dengan pendampingan profesional. Decluttering tentu tidak sekedar membersihkan barang tapi juga bertujuan untuk mengubah pola pikir. Terhadap pemilihan barang berdasarkan fungsi atau kenangan, kemudian menetapkan batas penyimpanan.
Namun ada tantangan besar ketika menerapkan decluttering pada penderita hoarding disorder, yakni rasa bersalah bahkan cemas berlebih ketika membuang barang menjadi tantangan utama. Anggapan mereka bahwa barang tersebut akan diperlukan suatu hari nanti serta memiliki nilai emosional yang tinggi.
Jika kondisi demikian maka perlu dilakukan langkah lanjutan berupa terapi perilaku kognitif (CBT), untuk mengatasi pikiran irasional tersebut.
Selain itu menurut Robik, bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu anggota yang mengalami hoarding disorder. Disini, keluarga perlu menghindari sikap menyalahkan dan pastinya harus lebih berempati.
Bahkan dukungan secara emosional maupun ajakan untuk konsultasi ke psikolog/psikiater lebih efektif daripada memaksa membersihkan ruangan, perlu dipahami juga dan penting untuk menciptakan lingkungan yang aman agar penderita tidak merasa dihakimi.
Gaya hidup YONO atau You Only Need One, dimana pandangan hidup minimalis dengan prinsip "cukup satu yang terbaik. Contohnya adalah ketika kita menyimpan satu jenis barang yang benar-benar dibutuhkan dengan begitu akan mendorong kebebasan mental dengan mengurangi kepemilikan materi. Bagi penderita hoarding, YONO bisa menjadi inspirasi untuk belajar melepas barang berlebih, terlebih jika prinsip YONO sudah diajarkan dan diterapkan sedini mungkin, maka akan membentuk kebiasaan berpikir kritis sebelum membeli bahkan menyimpan barang, sehingga mengurangi risiko penumpukan yang tidak sehat.
Namun, pada kondisi yang sudah parah, tentu langkah seperti decluttering saja tidak cukup karena akar masalahnya adalah psikologis. Robik menyebutkan sejumlah langkah yang lebih kompleks untuk mengatasinya seperti terapi yang efektif meliputi CBT untuk mengubah pola pikir, terapi eksposur (latihan membuang barang secara bertahap), dan obat-obatan jika ada komorbiditas seperti depresi. Kolaborasi dengan organisator profesional juga bisa membantu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....