Bahaya Kimia di Balik Headphone
- 25 Feb 2026 22:20 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Sebuah investigasi terbaru di Eropa menemukan seluruh headphone yang diuji dalam penelitian mengandung bahan kimia yang berpotensi membahayakan kesehatan. Zat tersebut dikaitkan dengan risiko kanker, gangguan perkembangan saraf, hingga gangguan hormon pada laki-laki. Produk dari sejumlah merek ternama seperti Bose, Panasonic, Samsung, dan Sennheiser disebut termasuk dalam sampel yang diuji.
Penelitian tersebut dilakukan oleh ToxFree LIFE for All, sebuah kemitraan kelompok masyarakat sipil di Eropa Tengah. Sebanyak 81 pasang headphone jenis in-ear dan over-ear dibeli dari toko ritel di Republik Ceko, Slovakia, Hungaria, Slovenia, dan Austria, serta dari platform daring seperti Shein dan Temu. Seluruh produk kemudian diuji di laboratorium untuk mendeteksi kandungan zat berbahaya.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan kimia berisiko ditemukan di semua produk yang dianalisis. Zat yang paling dominan adalah Bisfenol A (BPA), terdeteksi dalam 98 persen sampel. Sementara itu, penggantinya, Bisfenol S (BPS), ditemukan di lebih dari tiga perempat produk yang diuji.
BPA dan BPS diketahui memiliki sifat menyerupai hormon estrogen dalam tubuh. Paparan zat ini dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan, termasuk feminisasi pada laki-laki, pubertas dini pada anak perempuan, serta peningkatan risiko kanker tertentu. Dalam laporan yang dikutip dari The Guardian (24 Februari 2026), para peneliti menyebut kontak kulit yang berlangsung lama saat penggunaan headphone memungkinkan terjadinya perpindahan zat kimia langsung ke kulit pengguna.
Karolína Brabcová dari organisasi Arnika, yang terlibat dalam proyek tersebut, menegaskan bahwa bahan kimia ini bukan sekadar komponen tambahan pasif. Ia menjelaskan bahwa penggunaan sehari-hari, terutama ketika berolahraga dan tubuh berkeringat, dapat mempercepat perpindahan zat tersebut ke dalam tubuh. “Tidak ada tingkat yang ‘aman’ untuk pengganggu hormon yang meniru hormon alami kita,” tegasnya.
Selain bisfenol, peneliti juga menemukan keberadaan ftalat yang dikenal sebagai racun reproduksi, parafin terklorinasi yang dikaitkan dengan kerusakan hati dan ginjal, serta zat penghambat api berbasis bromin dan organofosfat. Meski sebagian besar ditemukan dalam kadar rendah, para ahli mengingatkan adanya potensi “efek koktail” dari paparan harian berbagai sumber yang dapat meningkatkan risiko kesehatan dalam jangka panjang.
Investigasi ini merupakan studi ketiga dari proyek ToxFree. Sebelumnya, mereka menemukan BPA pada empeng bayi, termasuk yang berlabel bebas BPA, serta bahan kimia berbahaya dalam pakaian dalam perempuan. Hingga laporan dipublikasikan, sejumlah perusahaan yang produknya termasuk dalam pengujian belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....