Waspada Leptospirosis, Ancaman Infeksi di Musim Hujan

  • 18 Feb 2026 08:40 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor: Leptospirosis menjadi salah satu penyakit menular yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang dapat menyerang manusia melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi.

Dilansir dari website www.alodokter.com bahwa Bakteri tersebut hidup di ginjal hewan dan dikeluarkan melalui urine, sehingga mencemari air maupun tanah. Hewan seperti anjing, sapi, babi, kuda, dan tikus kerap menjadi perantara penyebaran infeksi ini.

Penularan pada manusia dapat terjadi ketika kulit yang terluka bersentuhan langsung dengan urine hewan yang terinfeksi. Selain itu, konsumsi makanan atau minuman yang telah tercemar juga berisiko menyebabkan seseorang tertular.

Bakteri dapat masuk melalui luka kecil, mata, hidung, hingga saluran pencernaan. Dalam kasus yang sangat jarang, penularan juga dilaporkan terjadi melalui hubungan seksual atau air susu ibu.

Gejala leptospirosis pada tahap awal sering kali menyerupai influenza, seperti demam tinggi, sakit kepala, serta nyeri otot. Kondisi ini kerap membuat penderita tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi bakteri berbahaya.

Sebagian pasien dapat pulih dalam waktu sekitar satu minggu tanpa komplikasi berarti. Namun, pada kasus tertentu, penyakit ini berkembang menjadi bentuk yang lebih berat yang dikenal sebagai Weil's disease.

Pada tahap lanjut tersebut, penderita bisa mengalami penyakit kuning, gangguan ginjal, hingga pendarahan. Keluhan seperti sesak napas dan pembengkakan pada tangan serta kaki juga dapat muncul dan memerlukan penanganan segera.

Dokter biasanya melakukan pemeriksaan darah, tes antibodi, hingga uji molekuler untuk memastikan diagnosis. Penanganan dini dengan antibiotik terbukti efektif menekan perkembangan infeksi dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

Dalam kondisi berat, pasien perlu menjalani perawatan di rumah sakit guna mendapatkan terapi cairan, transfusi darah, atau bahkan bantuan pernapasan. Tanpa pengobatan yang tepat, leptospirosis berisiko menyebabkan kegagalan organ dan mengancam jiwa.

Upaya pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan angka kasus. Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan air yang berpotensi tercemar, serta menggunakan perlindungan diri saat bekerja di area berisiko.

Selain itu, pengendalian populasi tikus dan vaksinasi hewan peliharaan turut berperan dalam memutus rantai penularan. Dengan kewaspadaan dan tindakan preventif yang konsisten, risiko penyebaran leptospirosis dapat diminimalkan secara signifikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....