Waspada Nipah: WHO Ingatkan Ancaman Penyakit Zoonotik Mematikan

  • 31 Jan 2026 08:29 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - World Health Organization (WHO) merilis fact sheet terbaru mengenai virus Nipah pada 29 Januari 2026, sebagai bentuk pembaruan informasi global terkait penyakit zoonosis berisiko tinggi tersebut. Rilis ini menegaskan bahwa virus Nipah merupakan ancaman kesehatan serius dengan tingkat kematian yang tinggi, meskipun hingga kini masih tergolong penyakit langka di dunia.

Virus Nipah adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Nipah virus dan pertama kali teridentifikasi pada 1998 dalam wabah di Malaysia. WHO menjelaskan bahwa virus ini bersifat zoonotik, yaitu menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah dari genus Pteropus sebagai reservoir alami utama virus.

Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa jalur, antara lain kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar. Selain itu, melalui penularan antar manusia lewat cairan tubuh, terutama dalam kontak dekat dan perawatan medis tanpa perlindungan memadai.

WHO menyebutkan gejala awal penyakit Nipah sering menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan mual. Namun pada sebagian kasus, infeksi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan akut dan radang otak (ensefalitis) yang berpotensi menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, hingga kematian.

Dalam rilisnya, WHO menegaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk penyakit Nipah. Penanganan pasien masih bersifat suportif, dengan fokus pada perawatan intensif untuk menjaga fungsi pernapasan dan sistem saraf, sehingga deteksi dini menjadi faktor krusial dalam meningkatkan peluang keselamatan pasien.

Selain fact sheet, WHO juga menerbitkan laporan Disease Outbreak News pada 30 Januari 2026 terkait temuan kasus Nipah di India. Dalam laporan tersebut, WHO menilai risiko penyebaran lebih lanjut secara nasional maupun global masih rendah, namun kewaspadaan dan penguatan sistem surveilans tetap diperlukan, terutama di negara-negara dengan populasi kelelawar buah yang tinggi.

WHO mengimbau negara-negara anggota, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan pencegahan melalui pendekatan One Health, dengan memperkuat pengawasan penyakit pada manusia dan hewan, mengurangi interaksi berisiko dengan satwa liar, serta meningkatkan edukasi masyarakat. Langkah ini dinilai penting mengingat meskipun jarang terjadi, wabah Nipah berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan publik. (Wiwik)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....