Hoarding Disorder, Saat Seseorang Suka Menumpuk Barang

  • 30 Jan 2026 22:32 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah ketemu orang yang rumahnya penuh barang sampai susah jalan? Atau mungkin kamu sendiri suka mikir, “sayang banget kalau dibuang, siapa tahu nanti kepakai," tapi ujung-ujungnya numpuk? Bisa jadi itu ada kaitannya dengan Hoarding Disorder.

Apa itu Hoarding Disorder? Hoarding Disorder menurut para ahli, termasuk definisi DSM-5 dan Mayo Clinic, adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan kesulitan ekstrem untuk membuang barang, terlepas dari nilai sebenarnya dan apapun jenis barangnya.

Bukan cuma barang berharga, tapi juga barang yang kelihatannya sudah tidak berguna seperti kardus bekas, baju lama, koran, plastik, sampai barang rusak.

Masalahnya bukan sekadar “rumah berantakan”, tapi karena barang-barang itu menumpuk sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kenapa seseorang bisa sangat susah membuang barang ? Orang dengan Hoarding Disorder biasanya punya ikatan emosional yang kuat dengan barang-barangnya. Beberapa alasan yang sering muncul diantaranya takut suatu hari barang itu dibutuhkan, merasa barang punya nilai sentimental, takut menyesal setelah membuangnya, dan perasaan merasa aman kalau dikelilingi barang.

Buat orang lain mungkin kelihatannya sepele, tapi buat mereka, membuang satu barang bisa bikin stres luar biasa.

Orang dengan Hoarding Disorder biasanya terlihat dari ciri-ciri rumahnya yang penuh barang sampai sulit dipakai sesuai fungsinya. Orang tersebut akan stres atau cemas saat diminta merapikan atau membuang barangnya. Ia tidak hanya sulit mengorganisir barang tapi juga mengorganisir dirinya sendiri.

Kalau dibiarkan, Hoarding Disorder bisa berdampak besar. Hoarding Disorder bisa sebabkan risiko kebakaran dan kecelakaan, masalah kesehatan (debu, jamur, hama, lingkungan kumuh),renggangnya hubungan sosial, stres, cemas, bahkan depresi, serta merasa malu atau terisolasi.

Kabar baiknya Hoarding Disorder bisa disembuhkan dan dikelola. Penanganannya bisa melibatkan Terapi Psikologis (terutama CBT). Dukungan keluarga dan orang terdekat juga sangat dibutuhkan untuk menyembuhkan gangguan mental ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....