Baterai Isi Ulang atau Sekali Pakai, Mana Lebih Efisien?

  • 17 Jul 2026 08:16 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Baterai terbagi menjadi dua jenis utama: baterai isi ulang (rechargeable) menggunakan teknologi NiMH atau Li-ion, dan baterai sekali pakai menggunakan teknologi alkaline atau zinc-carbon.
  • Baterai isi ulang lebih hemat untuk penggunaan jangka panjang karena dapat diisi ulang ratusan kali dan ramah lingkungan, namun harga awal lebih tinggi dan memerlukan charger khusus.
  • Baterai sekali pakai lebih praktis tanpa perlu pengisian daya dan memiliki masa simpan lebih lama, tetapi biaya jangka panjang lebih tinggi dan menghasilkan lebih banyak limbah lingkungan.

RRI.CO.ID, Palembang - Baterai menjadi sumber energi yang digunakan pada berbagai perangkat elektronik, mulai dari remote televisi, jam dinding, hingga kamera digital. Di balik penggunaannya yang umum, masyarakat perlu memahami perbedaan baterai isi ulang dan baterai sekali pakai agar dapat memilih sesuai kebutuhan.

Direktur Inovasi dan Inkubator Bisnis (DIIB) Universitas Bina Darma, Rahmat Novrianda Dasmen, mengatakan secara umum baterai terbagi menjadi dua jenis, yaitu baterai isi ulang (rechargeable battery) dan baterai sekali pakai. Masing-masing memiliki keunggulan serta keterbatasan yang perlu dipertimbangkan sebelum digunakan.

Menurut Novrianda, baterai isi ulang dapat digunakan berulang kali dengan mengisi kembali dayanya menggunakan pengisi daya khusus. Jenis baterai ini umumnya menggunakan teknologi Nickel-Metal Hydride (NiMH) atau Lithium-Ion (Li-ion).

Ia menjelaskan baterai isi ulang lebih hemat untuk penggunaan jangka panjang karena dapat diisi ulang hingga ratusan kali. Selain itu, baterai tersebut juga lebih ramah lingkungan karena mampu mengurangi jumlah limbah baterai.

"Baterai isi ulang sangat cocok digunakan pada perangkat yang membutuhkan daya besar, seperti kamera digital, game controller, dan lampu darurat. Produk ini juga tersedia dalam berbagai ukuran, termasuk AA dan AAA," ujarnya, Selasa, 14 Juli 2026.

Meski demikian, baterai isi ulang memiliki beberapa keterbatasan. Harga pembelian awal relatif lebih tinggi, membutuhkan charger khusus, dan kapasitas penyimpanan dayanya akan menurun seiring usia pemakaian.

Sementara itu, baterai sekali pakai umumnya menggunakan teknologi alkaline dan zinc-carbon. Jenis baterai ini dirancang untuk digunakan hingga dayanya habis, kemudian diganti dengan baterai baru.

Novrianda mengatakan baterai sekali pakai lebih praktis karena dapat langsung digunakan tanpa proses pengisian daya. Baterai ini juga memiliki masa simpan yang lebih lama sehingga sesuai untuk perangkat yang jarang digunakan, seperti remote televisi, jam dinding, dan kalkulator.

"Baterai sekali pakai memang praktis, tetapi biaya penggunaannya lebih besar dalam jangka panjang karena harus terus membeli baterai baru. Selain itu, limbah yang dihasilkan juga lebih banyak sehingga berpotensi mencemari lingkungan," tuturnya.

Ia menambahkan masyarakat sebaiknya memilih jenis baterai sesuai kebutuhan penggunaan perangkat. Pemilihan baterai yang tepat tidak hanya lebih efisien secara ekonomi, tetapi juga mendukung upaya mengurangi dampak lingkungan akibat limbah baterai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....