Mengenal Peter Pan Syndrome pada Orang Dewasa

  • 15 Jul 2026 14:00 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Nama Peter Pan selama ini identik dengan tokoh anak ajaib yang tidak pernah tumbuh dewasa dalam karya J.M. Barrie. Akan tetapi, dalam dunia psikologi, nama tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi nyata yang dialami sebagian orang dewasa.

Mengutip dari Cleveland Clinic, Peter Pan Syndrome atau PPS adalah istilah psikologis populer untuk menggambarkan orang dewasa yang mengalami kesulitan untuk berkembang sesuai usianya. Meski bukan diagnosis klinis yang resmi, istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan pola perilaku yang cukup nyata dan berdampak pada kehidupan seseorang. Kondisi ini lebih umum ditemukan pada pria, namun siapa saja dapat menunjukkan ciri-ciri yang berkaitan.

Psikolog Natacha Duke, sebagaimana dikutip dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa inti dari kondisi ini adalah kegagalan atau penolakan untuk mengambil tanggung jawab yang seharusnya diemban orang dewasa. Individu dengan PPS cenderung bersifat egosentris, menghindari komitmen jangka panjang, dan berulang kali lari dari tanggung jawab dalam berbagai aspek kehidupan.

Berdasarkan penelitian yang dikutip Psychology Today, terdapat lima penanda utama dari Peter Pan Syndrome, yaitu:

  • Kelumpuhan emosional, berupa kesulitan mengenali dan mengekspresikan perasaan secara tepat

  • Kelambanan dalam bertindak, termasuk kebiasaan menunda tugas dan sering terlambat

  • Menghindar dari tanggung jawab, dengan kecenderungan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang terjadi

  • Mengharapkan sosok ibu dari pasangan, yang terlihat dari kesulitan dalam hubungan maternal dan kecenderungan memperlakukan pasangan seperti figur ibu

  • Hubungan yang tegang dengan figur ayah, berupa perasaan jauh dari ayah dan kesulitan berhadapan dengan otoritas laki-laki

Penyebab PPS belum sepenuhnya dipahami, namun Cleveland Clinic mencatat bahwa pola asuh permisif maupun overprotektif sama-sama dapat menjadi faktor risiko. Pola asuh permisif membuat anak sulit memahami pentingnya batasan yang sehat, sementara pola asuh yang terlalu protektif berpotensi menghambat kemampuan anak untuk mandiri di kemudian hari. Trauma masa kecil dan tekanan sosial yang mendewakan kebebasan dan petualangan juga disebut sebagai faktor yang turut berperan.

Pada intinya, perilaku-perilaku yang diasosiasikan dengan PPS berakar dari rendahnya toleransi terhadap tekanan emosional. Ketika menghadapi perasaan tidak nyaman seperti kecemasan, kesedihan, atau kritik, individu dengan PPS cenderung menghindar alih-alih menghadapinya. Pola inilah yang pada akhirnya membentuk kebiasaan melarikan diri dari situasi sulit, baik dalam hubungan maupun pekerjaan.

PPS tidak selalu menjadi masalah jika tidak mengganggu kehidupan seseorang secara signifikan. Namun, jika pola ini mulai merusak hubungan, karier, atau kesehatan mental, bantuan profesional dari psikolog atau terapis dapat menjadi langkah yang tepat untuk membantu membangun kesadaran diri dan toleransi emosional yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....