Red Light Therapy, Terapi Cahaya yang Tawarkan Beragam Manfaat Kesehatan

  • 12 Jul 2026 21:16 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Terapi cahaya merah atau red light therapy (RLT) belakangan semakin populer sebagai salah satu tren kesehatan yang diklaim mampu membantu peremajaan kulit, mempercepat pemulihan otot, hingga merangsang pertumbuhan rambut. Meski kerap dipromosikan oleh para influencer dan pegiat gaya hidup sehat, terapi ini ternyata memiliki dasar penelitian ilmiah yang sudah dikembangkan selama beberapa dekade.

Dalam artikel yang ditulis Tom Ward dan Olivia Vaile di GQ Magazine UK pada 8 Mei 2026, dijelaskan bahwa RLT bekerja menggunakan panjang gelombang cahaya merah dan inframerah dekat (near-infrared) untuk merangsang aktivitas sel tubuh. Cahaya tersebut memicu perubahan fotokimia pada tingkat sel sehingga membantu proses penyembuhan jaringan dan meningkatkan fungsi biologis tertentu.

Menariknya, perkembangan terapi ini berawal dari penelitian NASA pada era 1990-an. Saat itu, para peneliti mencoba memanfaatkan cahaya merah untuk membantu pertumbuhan tanaman di luar angkasa. Dalam prosesnya, mereka menemukan bahwa paparan cahaya tersebut juga membantu mempercepat penyembuhan luka dan menjaga kesehatan kulit para astronaut. Namun, penelitian mengenai manfaat cahaya merah sebenarnya sudah dimulai lebih awal pada 1960-an oleh dokter asal Hungaria, Endre Mester, yang menemukan bahwa laser merah berdaya rendah mampu merangsang pertumbuhan rambut dan mempercepat penyembuhan luka pada hewan uji.

Menurut Chris Bohler, Chief Technology Officer Kineon, terapi cahaya merah memanfaatkan sumber cahaya non-ionisasi seperti LED maupun laser berdaya rendah. Cahaya ini menembus jaringan tubuh dan memicu respons biologis tanpa merusak DNA, berbeda dengan sinar ultraviolet (UV).

Direktur HELIOS Red Light Therapy, Dan Gibbins, menjelaskan bahwa RLT bekerja dengan merangsang mitokondria atau "pembangkit energi" di dalam sel. Proses tersebut meningkatkan produksi adenosine triphosphate (ATP), yaitu sumber energi utama yang dibutuhkan sel untuk memperbaiki dan menjalankan berbagai fungsi tubuh.

Salah satu manfaat yang paling banyak diteliti adalah kesehatan kulit. Berbagai studi menunjukkan penggunaan rutin terapi cahaya merah mampu meningkatkan produksi kolagen, memperbaiki tekstur kulit, mengurangi garis halus, serta membuat warna kulit tampak lebih merata. Tidak heran jika masker wajah LED kini semakin banyak digunakan sebagai bagian dari rutinitas perawatan kulit.

Selain itu, terapi ini juga menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam membantu mengatasi kerontokan rambut akibat androgenetic alopecia, yaitu pola kebotakan yang umum dialami pria maupun wanita. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa RLT bukanlah solusi tunggal. Penyebab utama kerontokan seperti kekurangan zat besi, gangguan hormon, masalah tiroid, maupun kekurangan nutrisi tetap harus diperiksa dan ditangani secara medis.

Manfaat lain yang cukup banyak dimanfaatkan adalah membantu pemulihan otot setelah berolahraga. Cahaya inframerah dekat mampu menembus jaringan lebih dalam sehingga membantu mengurangi peradangan dan mempercepat proses pemulihan. Sejumlah atlet profesional bahkan diketahui menggunakan terapi ini sebagai bagian dari program latihan mereka.

Di sisi lain, berbagai klaim mengenai kemampuan terapi cahaya merah dalam meningkatkan kadar testosteron atau mengatasi disfungsi ereksi masih belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Para pakar menegaskan bahwa kondisi tersebut tetap memerlukan pemeriksaan medis secara menyeluruh dan tidak dapat diatasi hanya dengan terapi cahaya.

Popularitas RLT juga didukung oleh sejumlah selebriti yang menggunakannya, mulai dari Chrissy Teigen, Kourtney Kardashian, hingga atlet terkenal seperti Erling Haaland dan Noah Ohlsen. Selain itu, aktor Hugh Jackman dan Mark Wahlberg juga termasuk nama yang disebut pernah memanfaatkan terapi ini untuk mendukung pemulihan tubuh.

Sejumlah penelitian ilmiah turut memperkuat manfaat terapi cahaya merah. Salah satunya adalah penelitian yang dimuat dalam jurnal BMC Cancer yang menunjukkan bahwa terapi laser berdaya rendah lebih efektif mengurangi nyeri pada pasien kanker payudara dibandingkan terapi plasebo. Sementara itu, tinjauan penelitian yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health menyebut terapi ini mampu meningkatkan aliran oksigen serta aktivitas sel imun pada jaringan yang mengalami kerusakan sehingga mempercepat proses regenerasi.

Meski tergolong aman, terapi cahaya merah tetap harus digunakan sesuai dosis yang dianjurkan. Efektivitasnya dipengaruhi oleh panjang gelombang cahaya, jarak alat dengan tubuh, lama penyinaran, hingga jenis jaringan yang menjadi sasaran terapi. Penggunaan alat di rumah juga memerlukan perhatian terhadap petunjuk penggunaan agar hasilnya optimal.

Para ahli juga mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap terapi ini sebagai solusi ajaib. RLT dinilai paling efektif jika dikombinasikan dengan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, tidur yang cukup, dan menjaga hidrasi tubuh. Untuk penggunaan di rumah, durasi sekitar 10 hingga 20 menit sebanyak dua hingga enam kali dalam seminggu umumnya dianggap memadai, tergantung tujuan terapi.

Hasil terapi pun tidak muncul secara instan. Perbaikan kondisi kulit biasanya mulai terlihat setelah empat hingga delapan minggu penggunaan secara rutin, sementara pertumbuhan rambut dapat membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan. Sebaliknya, manfaat terhadap pemulihan otot sering kali sudah dapat dirasakan setelah satu sesi terapi.

Secara keseluruhan, terapi cahaya merah memang didukung oleh sejumlah penelitian ilmiah, terutama dalam bidang kesehatan kulit, penyembuhan jaringan, dan pemulihan otot. Namun, manfaatnya tetap memiliki batasan dan tidak dapat menggantikan penanganan medis terhadap penyakit tertentu. Dengan penggunaan yang tepat dan didampingi gaya hidup sehat, terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan pendukung untuk menjaga kesehatan tubuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....