Scrolling tanpa Tujuan Bisa Dipicu Kondisi Emosional Seseorang Sehari-hari

  • 10 Jul 2026 22:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kebiasaan menggulir media sosial atau scrolling di ponsel tanpa tujuan sering kali dilakukan secara otomatis tanpa disadari. Aktivitas yang dikenal sebagai mindless scrolling ini ternyata bukan sekadar kebiasaan mengisi waktu luang, tetapi juga dapat menjadi respons seseorang untuk mengalihkan perhatian dari rasa bosan, stres, kesepian, maupun berbagai emosi yang tidak nyaman.

Psikoterapis sekaligus pemilik Light Within Therapy, Jane Frumberg, LCSW, menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa cemas, kewalahan, atau kesepian, sistem saraf secara alami akan mencari cara tercepat untuk memperoleh rasa nyaman. Dalam kondisi tersebut, membuka ponsel menjadi pilihan yang paling mudah karena mampu memberikan distraksi secara instan. "Saat kita merasa kewalahan, cemas, kesepian, atau bahkan bosan, tubuh dapat menganggap ketidaknyamanan itu sebagai sesuatu yang mengancam. Ponsel menjadi cara cepat untuk mengalihkan perhatian dan menenangkan diri, meski hanya sementara," ujarnya.

Frumberg mengatakan kebiasaan tersebut juga dipengaruhi oleh mekanisme kerja otak. Notifikasi, unggahan terbaru, hingga video pendek dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Karena pengguna tidak pernah mengetahui konten apa yang akan muncul berikutnya, otak terus terdorong untuk menggulir layar demi memperoleh sensasi yang sama.

Meski mampu memberikan rasa nyaman dalam waktu singkat, Frumberg menegaskan bahwa mindless scrolling tidak menyelesaikan sumber utama dari emosi yang sedang dirasakan. Ia menyarankan masyarakat mulai membangun kebiasaan yang lebih sehat untuk mengelola emosi, seperti mengatur napas, berolahraga ringan, berbicara dengan orang terdekat, atau meluangkan waktu untuk melakukan refleksi diri.

Sementara itu, Profesor Psikologi dari University of Arkansas, Jenn Veilleux, Ph.D., menilai penggunaan ponsel sebagai pengalih perhatian tidak selalu berdampak negatif. Namun, kebiasaan tersebut dapat menjadi masalah apabila terus dilakukan untuk menghindari atau menekan emosi yang muncul. "Strategi menghindari emosi justru memperkuat keyakinan bahwa kita tidak mampu menghadapi perasaan tersebut. Padahal, rasa tidak nyaman bukanlah sesuatu yang berbahaya," katanya.

Veilleux menambahkan bahwa setiap emosi sebenarnya membawa informasi mengenai kebutuhan yang sedang dirasakan seseorang. Apabila emosi terus diabaikan melalui kebiasaan scrolling tanpa henti, kemampuan mengelola perasaan dapat menurun dan risiko mengalami kesulitan menghadapi berbagai persoalan di masa mendatang semakin besar. Karena itu, para ahli mengimbau masyarakat untuk lebih menyadari pemicu emosional di balik kebiasaan membuka ponsel serta mulai membangun cara yang lebih sehat dalam mengelola stres agar penggunaan layar menjadi lebih terkendali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....