Psikolog: Kecerdasan Emosional Berperan Besar dalam Keberhasilan Anak
- 06 Jul 2026 11:06 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kecerdasan Emosional (EQ) merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami dan mengendalikan emosi diri sendiri juga memahami perasaan orang lain demi interaksi sosial yang sehat.
- ciri ciri seseorang yang memiliki EQ yang baik diantaranya mengenal emosi diri sendiri, sensitif terhadap perubahan emosi orang lain.
- Orang tua diharapkan untuk membatasi penggunaan gadget dengan kesepakatan waktu yang tegas dan konsisten dengan anak agar bisa mencetak generasi emas
RRI.CO.ID, Palembang - Kecerdasan emosional (Emotional Quotient atau EQ) merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri, sekaligus memahami perasaan orang lain guna membangun hubungan sosial yang sehat. Hal tersebut disampaikan Psikolog Anak dan Remaja RS Charitas dan RS Siloam Sriwijaya Palembang, Devi Delia, saat menjadi narasumber dalam program Indonesia Cerdas di Studio Pro 1 RRI Palembang, Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut Devi, kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan seseorang. Kemampuan intelektual atau IQ yang tinggi tidak akan berkembang secara optimal apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi dan membangun hubungan sosial yang baik.
"Orang yang memiliki kemampuan akademik tinggi belum tentu mampu menghadapi tantangan kehidupan apabila tidak memiliki kecerdasan emosional yang baik. Pengendalian emosi menjadi salah satu faktor penting dalam meraih keberhasilan," ujarnya.
Ia menilai salah satu tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini adalah rendahnya daya tahan dalam menghadapi kegagalan. Sebagian anak cenderung mudah menyerah ketika menghadapi hambatan dan enggan mencoba kembali setelah mengalami kegagalan.
"Tantangan generasi muda saat ini adalah membangun ketangguhan dalam menghadapi masalah. Ketika mengalami kegagalan, mereka perlu didorong untuk bangkit dan kembali berusaha," katanya.
Menurut Devi, kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya pola pengasuhan yang terlalu memberikan kemudahan kepada anak. Akibatnya, sebagian anak kurang terbiasa menghadapi tantangan maupun menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Selain itu, perkembangan teknologi juga mengubah pola interaksi sosial. Intensitas komunikasi secara langsung yang semakin berkurang dinilai dapat memengaruhi kemampuan anak dalam membangun empati serta memahami perasaan orang lain.
Devi menjelaskan, seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik umumnya mampu mengenali emosinya sendiri, memahami perubahan emosi orang lain, serta menjalin komunikasi dan kerja sama yang positif dalam lingkungan sosial.
Ia menegaskan peran orang tua sangat menentukan dalam pembentukan kecerdasan emosional anak. Karena itu, orang tua perlu memberikan teladan dalam mengelola emosi sebelum mengharapkan anak mampu melakukan hal yang sama.
Sebagai contoh, orang tua yang baru pulang bekerja dalam kondisi lelah atau tertekan disarankan menenangkan diri terlebih dahulu sebelum berinteraksi dengan anak. Langkah tersebut dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih positif di lingkungan keluarga.
"Orang tua juga perlu membatasi penggunaan gawai melalui kesepakatan yang jelas dan konsisten bersama anak. Dengan demikian, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional, tangguh, dan memiliki empati terhadap sesama," ujar Devi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....