“Second Account”, Ruang Rahasia Anak Muda di Era Media Sosial
- 16 Jun 2026 17:57 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor : Di era media sosial yang serba terbuka, banyak anak muda kini memiliki lebih dari satu akun media sosial. Selain akun utama yang biasanya dibuat rapi dan “aman” untuk publik, muncul fenomena penggunaan second account atau akun kedua yang menjadi ruang lebih pribadi untuk berekspresi tanpa tekanan sosial.
Fenomena ini semakin populer di platform seperti Instagram, TikTok, hingga X. Banyak anak muda menggunakan akun kedua untuk membagikan isi pikiran, curhatan, meme random, hingga sisi diri yang tidak ingin ditampilkan di akun utama.
Akun utama biasanya dipenuhi foto terbaik, pencitraan positif, hingga konten yang dianggap “layak” dilihat keluarga, dosen, rekan kerja, atau publik. Sementara itu, second account justru menjadi tempat yang terasa lebih bebas karena pengikutnya terbatas dan hanya terdiri dari teman dekat tertentu.
Fenomena ini muncul karena tekanan sosial di media digital semakin tinggi. Banyak anak muda merasa harus tampil sempurna di internet. Mereka khawatir dihakimi, dibandingkan, atau terkena komentar negatif ketika mengunggah sesuatu di akun utama. Akibatnya, akun kedua menjadi semacam “zona aman digital”.
Menariknya, second account juga menunjukkan perubahan cara generasi muda membangun identitas di internet. Mereka tidak lagi memiliki satu identitas digital saja, melainkan beberapa versi diri sesuai lingkungan sosialnya. Di satu sisi terlihat formal dan estetik, di sisi lain bisa lebih santai, lucu, bahkan emosional.
Namun, fenomena ini juga memiliki sisi negatif. Karena merasa berada di ruang yang lebih privat, sebagian pengguna menjadi terlalu bebas dalam berbicara. Tidak sedikit akun kedua yang digunakan untuk mengunggah sindiran, menyebarkan gosip, atau meluapkan emosi secara berlebihan tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain.
Selain itu, penggunaan second account juga dapat memicu kelelahan digital. Seseorang harus “mengelola dua kepribadian” sekaligus di media sosial. Hal ini secara tidak sadar dapat membuat pengguna semakin sulit tampil apa adanya di dunia digital.
Meski begitu, fenomena second account memperlihatkan bahwa anak muda sebenarnya sedang mencari ruang yang lebih nyaman dan autentik di tengah budaya media sosial yang penuh tuntutan. Mereka ingin tetap terhubung secara digital tanpa harus terus-menerus terlihat sempurna.
Pada akhirnya, fenomena ini menjadi pengingat bahwa media sosial bukan hanya soal eksistensi, tetapi juga tentang kebutuhan manusia untuk merasa diterima, aman, dan bebas menjadi dirinya sendiri di dunia maya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....