Lima Profesor Riset Dikukuhkan, Perkuat Peran Inovasi untuk Pembangunan Nasional

  • 01 Apr 2026 09:03 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengukuhkan lima profesor riset dari berbagai bidang kepakaran dalam Sidang Terbuka yang digelar di Auditorium BRIN, Gedung BJ Habibie Jakarta, Selasa 31 Maret 2026. Pengukuhan ini menjadi bagian dari komitmen BRIN dalam memperkuat sumber daya manusia unggul di bidang riset dan inovasi.

Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, dalam sambutannya menegaskan bahwa BRIN memiliki peran strategis sebagai pilar riset, penggerak inovasi, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan bangsa. Ia menyebut, pengukuhan ini merupakan hasil dari proses akademik yang komprehensif melalui Majelis Profesor Riset.

“Sebanyak lima profesor riset yang dikukuhkan terdiri dari empat peneliti ahli utama dan satu perekayasa ahli utama. Mereka yang memiliki rekam jejak unggul dan kontribusi signifikan di bidangnya,” katanya.

Kelima profesor yang dikukuhkan meliputi: Pertama, Prof. Numan Muryana dari Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengusung model orkestrasi ekosistem untuk kesejahteraan sosial inklusif di Indonesia.

Risetnya berfokus pada penguatan layanan berbasis komunitas, perlindungan kelompok rentan, serta integrasi kebijakan lintas sektor. Kedua, Prof. Robert Asnawi yang meneliti transformasi agribisnis ubi kayu sebagai sumber pangan alternatif berkelanjutan.

Inovasinya mampu meningkatkan produktivitas lebih dari 100 persen. Sekaligus mendorong peningkatan pendapatan petani hingga 48,43 persen melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Ketiga, Prof. Taslim Alifini yang mengembangkan indeks daya dukung ekologi terumbu karang untuk memperkuat tata kelola ruang laut berbasis ekosistem di tingkat nasional. Keempat, Prof. Nunggul Yudono Setio Hadi Nugroho yang meneliti transformasi daerah aliran sungai menuju lanskap regeneratif melalui pendekatan sosio-teknis berbasis daya dukung lingkungan.

Risetnya menghasilkan model pengelolaan DAS yang adaptif dan partisipatif. Kelima, Prof. Aprijanto dari bidang teknologi hidrodinamika yang mengembangkan integrasi kecerdasan buatan dan sistem pemantauan untuk meningkatkan ketahanan kawasan pesisir dan pelabuhan.

Amarulla menambahkan, pengukuhan kali ini juga istimewa karena melibatkan seorang perekayasa yang diangkat menjadi profesor riset, mencerminkan kolaborasi erat antara peneliti dan perekayasa dalam menghasilkan inovasi. Dengan pengukuhan ini, jumlah profesor riset BRIN kini mencapai 100 orang.

Capaian tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah riset global. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pengukuhan profesor riset bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk menghasilkan karya inovatif yang berdampak bagi masyarakat.

Para profesor riset diharapkan terus menjunjung tinggi etika keilmuan, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan solusi berbasis riset yang relevan dengan kebutuhan nasional. BRIN juga terus memperkuat kerja sama internasional, termasuk melalui forum global bersama Food and Agriculture Organization (FAO) dalam transformasi industri peternakan berkelanjutan.

“Profesor riset diharapkan tidak hanya unggul dalam karya, tetapi juga menjadi teladan dalam integritas dan tanggung jawab moral. Sehingga mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap dunia riset dan inovasi,” kata Amarulla. (trs)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....