Murahnya Akun Palsu di Indonesia Jadi Sorotan Global
- 27 Jan 2026 13:00 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan biaya pembuatan akun palsu daring termurah di dunia. Kondisi ini menjelaskan maraknya akun palsu di berbagai platform media sosial yang kerap dimanfaatkan untuk aktivitas pendengung atau buzzer, penipuan, hingga manipulasi opini publik.
Fenomena tersebut tidak terlepas dari keberadaan pasar gelap yang menyediakan jasa verifikasi berbasis pesan singkat (SMS) untuk pembuatan akun palsu. Layanan ini memungkinkan seseorang membuat banyak akun tanpa menggunakan identitas pribadi, meski platform digital telah menerapkan sistem verifikasi berbasis nomor telepon.
Sejumlah temuan itu diungkap oleh tim peneliti dari University of Cambridge yang mengembangkan indeks global untuk melacak harga verifikasi SMS akun palsu di berbagai negara. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa harga jasa verifikasi cenderung melonjak menjelang peristiwa politik besar, seperti pemilihan umum, menandakan meningkatnya permintaan terhadap akun tidak autentik.
Para peneliti menilai tren harga jasa verifikasi SMS sangat dipengaruhi oleh biaya telekomunikasi nasional. Dengan kata lain, murahnya layanan seluler di suatu negara berbanding lurus dengan rendahnya biaya pembuatan akun palsu, sekaligus membuka peluang manipulasi daring yang lebih masif.
Dalam makalah berjudul Mapping the Online Manipulation Economy yang terbit di jurnal Science pada 11 Desember 2025, peneliti Anton Dek dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa aktivitas tidak autentik di internet kini mencakup spektrum luas, mulai dari otomatisasi sederhana hingga jaringan akun palsu yang terorganisasi untuk mempromosikan penipuan.
“Untuk meningkatkan keamanan, platform daring mewajibkan konfirmasi akun melalui kata sandi satu kali yang dikirim lewat SMS. Namun, terdapat pasar yang berkembang untuk membeli dan menjual verifikasi SMS sesuai permintaan,” tulis Dek dan timnya. Menurut mereka, pasar ini menjadi fondasi ekonomi bagi manipulasi daring skala besar.
Guna memetakan fenomena tersebut, para peneliti menciptakan Cambridge Online Trust and Safety Index (COTSI), sebuah sistem yang melacak harga harian verifikasi SMS di 197 negara dan lebih dari 500 platform daring. Setidaknya terdapat 17 penyedia jasa yang secara terbuka menjual kode verifikasi, sebagian besar menargetkan pelanggan berbahasa Rusia dan Tiongkok.
Penyedia jasa ini membeli kartu SIM, baik fisik maupun virtual, dalam jumlah besar. Karena setiap kartu SIM umumnya hanya dapat digunakan sekali untuk satu platform, harga verifikasi SMS pun sangat bervariasi antarnegara dan layanan. Temuan ini dinilai memberi wawasan penting bagi pembuat kebijakan untuk memahami bagaimana operasi manipulasi daring terbentuk dan berkembang secara real time.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....