Rekor Baru, Emas Dunia Tembus USD 5.000
- 26 Jan 2026 09:34 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Tren penguatan harga emas global dan domestik mencapai puncaknya pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026. Logam mulia ini kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high), dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional yang mendorong investor memburu aset aman (safe haven). Lonjakan ini menandai babak baru dalam pasar komoditas global yang kian volatil di awal tahun.
Berdasarkan data resmi dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam), harga emas batangan pada Senin pagi terpantau melonjak sebesar Rp30.000 dari posisi sebelumnya, sehingga kini berada di level Rp2.917.000 per gram.
Kenaikan tajam ini melanjutkan reli positif yang terjadi sepanjang pekan lalu. Sebagai perbandingan, pada Jumat (23/1), harga emas Antam masih bertengger di angka Rp2.887.000 per gram. Kenaikan hari ini juga mendongkrak harga buyback atau harga beli kembali oleh Antam menjadi Rp2.750.000 per gram, naik Rp28.000 dibandingkan hari sebelumnya.
Di pasar internasional, harga emas dunia mencetak sejarah baru dengan menembus ambang batas psikologis USD 5.000 per troy ons pada sesi perdagangan Senin pagi. Melansir data pasar spot, emas sempat menyentuh angka USD 5.033 per troy ons.
Faktor utama yang memicu ledakan harga ini adalah pernyataan kontroversial terkait isu kedaulatan Greenland dan ancaman tarif perdagangan global yang memicu kekhawatiran resesi. Situasi tersebut memaksa para pelaku pasar mengalihkan modal mereka dari aset berisiko tinggi seperti saham ke instrumen logam mulia yang dianggap lebih stabil.
Perkembangan di tingkat retail domestik juga menunjukkan pergerakan serupa. Di Pegadaian, harga emas batangan cetakan Galeri24 dibanderol sebesar Rp2.925.000 per gram, sementara cetakan UBS mencapai Rp2.974.000 per gram.
Lonjakan harga yang konsisten dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa minat investasi masyarakat terhadap emas fisik tetap tinggi meskipun harga terus melambung ke level yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Analis komoditas menyebutkan bahwa selain faktor geopolitik, pelemahan indeks dolar AS dan langkah bank sentral di berbagai negara Asia yang terus menambah cadangan emas mereka turut memperkuat posisi tawar logam mulia. Emas kini tidak lagi sekadar perhiasan, melainkan jangkar stabilitas ekonomi bagi banyak negara. Secara teknis, jika tensi perdagangan global tidak segera mendingin, para pengamat memprediksi harga emas masih berpotensi menguji level resisten baru di angka USD 5.300 pada kuartal mendatang.
Meski tren jangka panjang tetap menguat, masyarakat tetap diimbau untuk memantau fluktuasi harian secara cermat melalui kanal informasi resmi guna mengambil keputusan investasi yang tepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....