BPBD: Kemarau Panjang Masyarakat Harus Hemat Air

  • 17 Jul 2026 12:16 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang. Masyarakat diminta menghemat penggunaan air bersih serta tidak melakukan pembakaran lahan guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Gorontalo, Rusli W. Nusi melalui Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo Moh. Tahir Laendeng, mengatakan langkah antisipasi sejak dini sangat diperlukan agar dampak kekeringan dan potensi karhutla dapat diminimalkan.

"Yang pertama adalah menjaga agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan. Kemudian masyarakat diimbau mengirit penggunaan air bersih. Mengingat musim kemarau diperkirakan berlangsung cukup panjang, masyarakat juga diharapkan mulai mempersiapkan sumber-sumber air yang dapat dimanfaatkan apabila terjadi kekeringan," ujar Moh. Tahir, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurutnya, BPBD Provinsi Gorontalo telah menerima informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi musim kemarau yang akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Provinsi Gorontalo. Kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan di sejumlah daerah yang selama ini menjadi wilayah langganan terdampak.

Beberapa kawasan yang menjadi perhatian BPBD antara lain wilayah di Kota Gorontalo, Kabupaten Boalemo Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Gorontalo Kecamatan Boliyohuto, Kecamatan Pulubala dan Kabupaten Gorontalo Utara, serta sejumlah wilayah pesisir di Kabupaten Bone Bolango. Selain itu, kawasan Mootilango dan daerah sekitarnya juga termasuk wilayah yang kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau.

"Wilayah-wilayah tersebut akan terus kami pantau. Apabila terjadi peningkatan potensi kekeringan, BPBD akan melakukan penanganan secara lebih khusus sesuai dengan kebutuhan di lapangan," jelasnya.

Selain kekeringan, musim kemarau juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Gorontalo melakukan pemantauan titik panas melalui website https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id, setiap hari dan berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota apabila terdeteksi adanya titik panas melalui citra satelit.

Moh. Tahir menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan tim Pusdalops, diduga sebagian besar titik panas yang terdeteksi bukan disebabkan oleh kebakaran hutan yang meluas, melainkan aktivitas masyarakat yang membakar sisa-sisa hasil panen, seperti tumpukan jerami di area persawahan.

"Di satelit, aktivitas pembakaran tersebut tetap terbaca sebagai titik panas. Karena itu kami selalu berkoordinasi dengan daerah untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran hutan dan lahan atau hanya pembakaran sisa hasil panen. Meski demikian, kami tetap mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, terutama saat musim kemarau," ungkapnya.

BPBD Provinsi Gorontalo juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dengan menggunakan air secara bijak, menghindari pembakaran lahan, serta segera melaporkan kepada pemerintah setempat apabila menemukan indikasi kebakaran maupun kekeringan yang mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan bersama dalam menghadapi musim kemarau tahun ini. (mcgorontaloprov/ppid)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....