Lepas Anak Maleo Tandai Rapat Anggota Burung Indonesia di Gorontalo

  • 11 Jul 2026 13:52 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Perhimpunan Burung Indonesia mengawali rangkaian Rapat Anggota Tahun 2026 dengan kegiatan pelepasliaran delapan ekor anak burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Cagar Alam Panua, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, Sabtu , 11 Juli 2026.

Kegiatan ini menjadi simbol komitmen organisasi dalam mendukung upaya pelestarian satwa endemik Sulawesi beserta habitat alaminya.

Pelepasliaran dilakukan bersama para anggota Perhimpunan Burung Indonesia, mitra konservasi seperti Gorontalo Green School, serta staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam seksi II Gorontalo yang selama ini berperan dalam perlindungan kawasan dan keanekaragaman hayati di Gorontalo.

Delapan anak burung Maleo yang dilepas diharapkan mampu beradaptasi dan tumbuh di habitat alaminya sehingga dapat memperkuat populasi spesies yang kini masih menghadapi berbagai ancaman.

Maleo merupakan salah satu burung endemik Sulawesi yang memiliki perilaku reproduksi unik, yakni memanfaatkan panas alami dari sinar matahari atau panas bumi untuk menetaskan telurnya.

Namun, degradasi habitat, gangguan pada lokasi peneluran, dan perburuan telur masih menjadi tantangan utama bagi kelestarian spesies ini.

"Pelepasan anak Burung Maleo ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian peserta terhadap upaya pelestarian burung maleo sebagai satwa endemik Sulawesi yang dilindungi, mendukung program konservasi yang dilaksanakan oleh BKSDA bersama para mitra, serta menjadi media edukasi dan kampanye publik mengenai pentingnya perlindungan habitat dan keanekaragaman hayati," kata Marahalim Siagian, Program Koordinator Burung Indonesia di Gorontalo.

Sementara itu, Tatang Abdullah Kepala Resort Cagar Alam Panua dalam sambutannya mangatakan jumlah relokasi telur maleo dari tahun 2014 sejak fasilitas penetasan (hatchery) dioperasikan sebanyak 1.754 butir dan jumlah yang menetas sebanyak 1.403 anakan.

"Tahun ini, jumlah telur yang direlokasi dari alam ke fasilitas penetasan sebanyak 158 butir dan yang menetas serta dilepasliarkan sebayak 68 ekor. Dengan demikian, dalam 12 tahun terakhir jumlah telur yang direlokasi sebanyak 1.912 butir dan yang dilepas-liarkan sebanyak 1.471 ekor," ujar Tatang.

Setelah kegiatan pelepasliaran, seluruh peserta melanjutkan agenda Rapat Anggota Perhimpunan secara dariling untuk menyimak capaian organisasi dalam 5 tahun terakhir serta memilih pengurus dewan perhimpunan untuk menjalankan mandat organisasi untuk lima tahun ke depan.

Melalui kegiatan ini, Perhimpunan Burung Indonesia berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga kelestarian Maleo dan satwa liar Indonesia lainnya. Konservasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi lingkungan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama demi memastikan kekayaan hayati Indonesia tetap lestari bagi generasi mendatang. (mcgorontaloprov/rls)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....