Prevalensi Stunting di Beltim Naik Jadi 7,83 Persen
- 05 Jun 2026 21:09 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Belitung Timur - Pemerintah Kabupaten Belitung Timur mencatat angka prevalensi stunting di daerah itu per April 2026 berada pada angka 7,83 persen. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan baseline tahun 2025 yang tercatat sebesar 6,11 persen.
Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar, mengatakan persoalan stunting masih menjadi tantangan yang harus ditangani secara serius dan terintegrasi oleh seluruh pemangku kepentingan.
Ia menegaskan penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh unsur yang memiliki peran dalam pembangunan keluarga dan peningkatan kualitas sumber daya manusia
"Permasalahan stunting masih menjadi tantangan serius yang harus kita tangani bersama. Data yang ada menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Belitung Timur masih menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa periode terakhir," kata Khairil, Jum'at, 5 Juni 2026.
Sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Belitung Timur, Khairil meminta seluruh pihak memperkuat sinergi dan menjalankan tugas sesuai peran masing-masing dalam upaya menekan angka stunting. Menurutnya, keberhasilan percepatan penurunan stunting sangat bergantung pada efektivitas koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, serta masyarakat.
"Kecamatan harus aktif sebagai koordinator wilayah, puskesmas memperkuat layanan kesehatan dan gizi, sementara PLKB dan Tim Pendamping Keluarga melakukan pendampingan serta pemantauan terhadap keluarga sasaran secara berkelanjutan," ujarnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kecamatan Simpang Renggiang, Ayu Nilam Sahri, mengatakan upaya penurunan stunting terus menjadi perhatian di wilayahnya mengingat sejumlah desa di Kecamatan Simpang Renggiang masih mencatat prevalensi stunting yang cukup tinggi.
"Kami mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan tanaman yang bisa mendukung kebutuhan gizi keluarga. Ini menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat," ujar Ayu.
Selain itu, Ayu menyoroti pentingnya peran posyandu dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurutnya, masih terdapat balita yang tidak rutin mengikuti kegiatan posyandu sehingga pemantauan status gizi dan pembaruan data menjadi kurang optimal.
"Program yang baik harus didukung oleh orang tua yang memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya gizi serta pola asuh anak. Karena pada akhirnya yang paling berperan dalam tumbuh kembang anak adalah keluarga," ujarnya.
Melalui penguatan edukasi, peningkatan partisipasi masyarakat, dan sinergi lintas sektor, TP PKK Kecamatan Simpang Renggiang berharap angka stunting di wilayah tersebut dapat terus ditekan sehingga kualitas kesehatan anak-anak semakin meningkat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....