Suleman Bouti Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Sosiolinguistik-Ortografi UNG

  • 04 Feb 2026 07:15 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Dalam dunia linguistik, ortografi kerap didefinisikan secara sederhana sebagai sistem lambang grafis untuk mewakili bunyi bahasa. Namun sesungguhnya ortografi bukan hanya “cara menulis bunyi,” melainkan arena sosial yang merekam dinamika kekuasaan, identitas, dan legitimasi. Ia adalah wajah bahasa yang dilihat dunia, bukan sekadar menyalin suara, tetapi menata relasi sosial penuturnya.

Di balik setiap huruf, tersimpan ideologi dan negosiasi tentang siapa yang berhak menulis, siapa yang berhak menentukan bentuk “benar,” dan siapa yang dikecualikan dari percakapan itu.

Hal ini disampaikan Profesor Dr Suleman Bouti MHum saat membuka orasi ilmiahnya pada pengukuhan guru besar tetap Universitas Negeri Gorontalo, Selasa, 3 Februari 2026.

Suleman Bouti yang dikenal sebagai budayawan Gorontalo ini dikukuhkan sebagai guru besar sosiolinguistik ortografi bersama empat guru besar lainnya dalam sidang senat terbuka yang dipimpin Ketua Senat Prof Dr Femmy M Sahami SPi MSi dan dihadiri Rektor Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok ST MT IPU ASEAN Eng.

Suleman Bouti Dalam pidatonya yang berjudul ortografi dalam masyarakat tutur minoritas memunculkan pertanyaan kritis apa arti ortografi bagi masyarakat tutur minoritas yang lebih kuat hidup dalam tradisi lisan daripada tradisi tulis, apakah ortografi menjadi jembatan untuk memperluas ruang eksistensi bahasa mereka, atau justru tembok yang membatasi dan mengasingkan.

“Banyak komunitas minoritas memiliki kekayaan oral tradition yang luar biasa seperti doa, ritual, nyanyian, pantun, hingga peribahasa, yang menjadi sarana pewarisan nilai budaya dan kebijaksanaan lokal,” kat Suleman Bouti.

Dalam tradisi seperti ini, oratur bukan sekadar aktivitas berbicara, melainkan suatu sistem pengetahuan yang hidup dalam tubuh penutur: diucapkan, diingat, dan diwariskan melalui performativitas sosial. Namun, ketika ortografi diperkenalkan, bahasa yang hidup di mulut itu dipaksa memasuki barisan huruf di atas kertas. Proses ini tidak selalu menghidupkan, kadang justru membekukan bahasa menjadi artefak.

“Di sinilah paradoks ortografi bekerja, ia menjanjikan pelestarian, tetapi pada saat yang sama dapat menjadi instrumen pembekuan oratur dan transformasi bahasa dari praktik hidup menjadi representasi yang diam,” ungkap Suleman.

Kasus di Gorontalo, salah satu medan kajian utama dalam riset Suleman Bouti memperlihatkan kompleksitas multiliterasi yang khas. Di sana hidup berdampingan dua sistem ortografi yang historis dan ideologis: Arab-Pegon sebagai warisan Islam yang banyak digunakan dalam manuskrip dan tradisi keagamaan; serta Latin sebagai simbol modernitas dan otoritas negara.

Kedua sistem ini tidak serta-merta plug-in dengan struktur bahasa Gorontalo yang memiliki penciri khas fonetik dan morfologis. Akibatnya penyesuaian bunyi dengan huruf tidak pernah sepenuhnya stabil, melainkan menjadi ruang negosiasi antara tradisi dan modernitas.

Fenomena ini sejajar dengan berbagai kasus global. Lihatlah masyarakat Berber di Afrika Utara yang menulis bahasanya dengan tiga system, yaitu Latin, Arab, dan Tifinagh, yang masing-masing merepresentasikan orientasi ideologis yang berbeda, atau perpecahan Hindi–Urdu yang satu bahasa lisan namun dua ortografi, Devanagari dan Nastaliq, yang memisahkan komunitas berdasarkan agama dan nasionalitas.

Di titik inilah ortografi bukan lagi sistem fonetik melainkan politik tanda, simbol visual yang mengatur siapa yang dianggap bagian dari bangsa, dan siapa yang tidak.

Dalam konteks Indonesia, dinamika serupa terlihat jelas. Aksara-aksara lokal seperti Jawa, Batak, Bugis, dan Rejang perlahan tersingkir oleh latinisasi yang dipromosikan negara atas nama efisiensi dan modernitas. Namun di balik wacana efisiensi itu tersimpan logika kekuasaan, negara berupaya membentuk narasi tunggal tentang identitas nasional. Dalam pandangan sosiolinguistik ortografi, ini adalah praktik normalisasi bahasa, yang menjadikan satu bentuk tulisan sebagai pusat, dan lainnya sebagai pinggiran.

Suleman memaparkan dampaknya yang tidak berhenti pada ranah kebijakan tetapi merembes ke ranah psikologis penutur. Masyarakat tutur minoritas sering merasa bahwa bahasa mereka kehilangan otentisitas ketika dipaksa ditulis dengan huruf asing. Bahasa yang selama ini mereka rawat melalui tutur dan nyanyian terasa seperti dipinjamkan kepada sistem lain yang tak mereka kuasai.

“Inilah yang dapat disebut sebagai alienasi linguistic, bahasa sendiri terasa asing di tangan penuturnya,” ujar Suleman.

Dalam pengukuhan guru besar ini, selain Prof Dr Suleman Bouti, juga dikukuhkan Prof Dr Dakia N Djou MHum guru besar bidang Antropolinguistik, Prof Dr Ir Sardi Salim MPd IPU ASEAN Eng,  guru besar kajian Geografi ElektrifikasiProf Dr Asna Ntelu MHum Guru Besar dalam Bidang Analisis Wacana Budaya, dan Prof Dr Frida Maryati Yusuf MPd sebagai Guru Besar Bidang Belajar dan Pembelajaran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. (mcgorontaloprov)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....