Kemenkes Percepat Hilirisasi Kesehatan, Takeda Investasi Bangun Pabrik Plasma

  • 19 Jul 2026 12:22 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berhasil menarik investasi asing bernilai besar untuk memperkuat hilirisasi industri kesehatan nasional. Sepanjang 2026, pemerintah mengamankan komitmen investasi dari perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, yang akan membangun pabrik produk turunan plasma darah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia.

Dikutip dari laman kemkes.go.id pada Minggu, 19 Juli 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan investasi tersebut merupakan implementasi Pilar Ketiga Transformasi Kesehatan, yakni Ketahanan Kesehatan. Menurutnya, langkah ini merupakan respons atas pengalaman selama pandemi COVID-19 ketika Indonesia mengalami kelangkaan alat kesehatan, vaksin, obat-obatan, hingga bahan diagnostik akibat tingginya ketergantungan terhadap produk impor.

"Di masa pandemi, masyarakat sangat kesulitan dan harus membayar mahal untuk mendapatkan obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP). Seperti Albumin, IVIG, Faktor-8, dan Faktor-9," kata Menkes Budi melalui siaran pers yang disampaikannya di Jakarta.

PDP merupakan obat yang berperan penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu proses pembekuan darah. Produk tersebut dihasilkan melalui proses fraksionasi plasma dari darah manusia, sehingga Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk memproduksinya secara mandiri karena didukung jumlah penduduk yang besar sebagai sumber bahan baku plasma.

“Sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya memiliki sumber daya bahan baku darah yang sangat melimpah untuk diolah secara mandiri menjadi PDP. Ini yang sedang kita hilirisasi,” ujar Menkes Budi.

Untuk mempercepat terwujudnya kemandirian tersebut, Kemenkes telah merelaksasi regulasi pembangunan pabrik plasma sejak 2023. Kebijakan itu berhasil menarik investasi perusahaan biofarmasi asal Korea Selatan, SK Plasma, yang bekerja sama dengan Indonesia Investment Authority (INA) membangun fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia dengan nilai investasi mencapai 300 juta dolar Amerika Serikat dan kapasitas produksi 600.000 liter per tahun.

Pabrik SK Plasma telah rampung dibangun pada 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2027 setelah memperoleh izin operasional dan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Keberhasilan tersebut kemudian diikuti masuknya Takeda sebagai investor pembangunan pabrik plasma kedua di Indonesia dengan kapasitas produksi yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan terapi berbasis plasma di dalam negeri.

Selain memperkuat industri plasma darah, Kemenkes juga terus mendorong kemandirian produksi vaksin melalui operasional PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. PT Biotis bahkan mengembangkan Vaksin Merah Putih hasil penelitian anak bangsa sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

"Melalui Transformasi Ketahanan Kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis, tetapi bertindak nyata membenahinya. Lewat berdirinya fasilitas produksi dari Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, kita pastikan ketersediaan obat dan vaksin rakyat ke depan akan selalu aman, terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri," kata Menkes Budi mengakhiri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....