Indonesia Luncurkan Purwarupa Vaksin Dengue Berbasis mRNA
- 12 Jul 2026 21:02 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Indonesia mencatatkan langkah bersejarah dalam pengembangan teknologi kesehatan dengan meluncurkan purwarupa (prototype) vaksin dengue tetravalen berbasis mRNA, teknologi yang sebelumnya dikenal luas sebagai senjata melawan COVID-19. Peluncuran yang berlangsung di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026, menjadi tonggak awal pengembangan vaksin mRNA pertama di dunia untuk mencegah demam berdarah dengue.
Dikutip dari laman kemkes.go.id, pada Minggu, 12 Juli 2026, purwarupa vaksin tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University dari Tiongkok, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia. Vaksin ini memanfaatkan materi genetik berupa gen preM-E virus dengue yang berasal dari strain asli Indonesia, sekaligus memperkuat upaya mewujudkan kemandirian industri vaksin nasional.
Peluncuran purwarupa dilakukan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama Rektor UI Heri Hermansyah, Vice President Tsinghua University Prof. Wu Huaqiang, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, serta Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan kuatnya sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan lembaga riset dalam mengembangkan inovasi kesehatan nasional.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa keberhasilan pengembangan vaksin ini akan menjadi pencapaian besar bagi Indonesia. Selain berpotensi menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah, produk tersebut juga akan menjadi antigen keenam yang mampu diproduksi Indonesia secara mandiri dari tahap penelitian hingga proses manufaktur.
"Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia," ujar Menkes Budi.
Menurut Budi, percepatan pengembangan industri vaksin merupakan pelajaran penting yang diperoleh Indonesia selama pandemi COVID-19. Pada periode 2020 hingga 2022, Indonesia menghadapi keterbatasan akses terhadap vaksin, alat diagnostik, dan produk terapeutik sehingga pemerintah berkomitmen membangun kapasitas riset dan produksi di dalam negeri.
Komitmen tersebut mulai menunjukkan hasil dengan bertambahnya jumlah perusahaan vaksin nasional dari satu menjadi empat, yakni Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio. Dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan dalam program imunisasi nasional, Indonesia kini telah mampu memproduksi 11 antigen di dalam negeri, dengan lima di antaranya diproduksi secara penuh mulai dari riset, pengembangan bibit vaksin, hingga proses manufaktur.
Kerja sama pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA ini telah dimulai sejak 2023. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut berawal dari pertemuan tim peneliti Universitas Indonesia dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, yang dikenal sebagai salah satu pakar vaksin terkemuka di dunia, sebelum kemudian berkembang menjadi kerja sama riset yang didukung berbagai kementerian dan lembaga.
Pemilihan dengue sebagai prioritas pengembangan vaksin didasarkan pada tingginya beban penyakit di Indonesia yang mencapai sekitar 151 ribu kasus dan 650 kematian setiap tahun. Menutup sambutannya, Menkes Budi mengajak para ilmuwan Indonesia untuk menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
"Anda mungkin bangga menulis di jurnal internasional dengan impact factor tinggi, tetapi Anda belum benar-benar berkontribusi pada kemanusiaan jika tulisan itu hanya berakhir sebagai tumpukan kertas. Ubahlah paper itu menjadi produk yang benar-benar menyelamatkan nyawa," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....