Haji 2026 Humanis Afirmatif untuk Perempuan dan Lansia
- 28 Jan 2026 03:10 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Visi utama penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, yakni haji yang berkeadilan, berempati, dan berpihak kepada kelompok rentan, menjadi prinsip utama yang wajib dipahami seluruh petugas haji. Penekanan tersebut disampaikan Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat memimpin apel pagi dalam agenda Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu, 24 Januari 2026.
Dalam arahannya, Wamenhaj mengajak seluruh petugas untuk meneladani pesan Rasulullah SAW pada peristiwa Haji Wada, haji terakhir Nabi Muhammad SAW, yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Nilai tersebut dinilai sangat relevan untuk dijadikan landasan dalam penyelenggaraan haji Indonesia ke depan.
“Kalau kita membaca sejarah, kita ingat sekali salah satu pesan utama dari Haji Wada. Dalam khutbah tersebut, Rasulullah SAW secara tegas menyampaikan pesan kepedulian: jaga dan muliakan perempuan-perempuan kalian,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak.
Menurutnya, pesan luhur tersebut menjadi fondasi penting dalam perumusan kebijakan dan pelayanan haji tahun 2026. Selain mengusung program Haji Ramah Lansia, pemerintah juga menegaskan komitmen terhadap Haji Ramah Perempuan sebagai bentuk afirmasi nyata dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Berdasarkan data jemaah haji Indonesia, lebih dari 55 persen jemaah merupakan perempuan, sementara sekitar 25 persen lainnya masuk kategori lansia. Bahkan, sebagian besar jemaah lansia tersebut juga merupakan perempuan, sehingga membutuhkan layanan yang lebih sensitif, protektif, dan berperspektif gender.
“Tahun ini, atas perintah langsung Presiden Prabowo Subianto, Bapak Menteri menegaskan bahwa haji harus menjadi haji yang afirmatif, berpihak kepada perempuan dan berpihak kepada lansia,” tegas Wamenhaj.
Sebagai bentuk konkret dari kebijakan tersebut, komposisi petugas haji tahun 2026 turut mencerminkan keberpihakan kepada kelompok rentan. Wamenhaj mengungkapkan bahwa sebanyak 33 persen petugas haji tahun 2026 merupakan perempuan, jumlah tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan haji Indonesia.
“Ini bukan angka simbolik. Ini adalah yang tertinggi dalam sejarah. Kehadiran petugas perempuan sangat penting untuk memastikan jemaah perempuan dan lansia mendapatkan layanan yang aman, nyaman, dan bermartabat,” jelasnya.
Wamenhaj berharap seluruh peserta Diklat PPIH Arab Saudi 2026 tidak hanya memahami tugas secara teknis, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Haji Wada Rasulullah SAW sebagai ruh dalam pelayanan. Dengan demikian, penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 dapat berjalan secara humanis, berkeadilan, dan penuh kepedulian terhadap seluruh jemaah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....