Budidaya Lele Kolam Terpal Jadi Solusi Usaha di Lahan Terbatas

  • 16 Jul 2026 11:09 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Budidaya ikan lele di kolam terpal menjadi salah satu peluang usaha yang semakin diminati masyarakat karena dapat dilakukan di lahan terbatas dengan biaya yang relatif terjangkau. Keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh kualitas benih, tetapi juga manajemen pakan, kualitas air, serta penyortiran ikan secara berkala.

Menurut Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, Kristian Ari Asis saat dialog di Pro 4 RRI Surakarta Kamis, 9 Juli 2026 menjelaskan bahwa budidaya lele di kolam terpal, khususnya kolam bulat, merupakan usaha yang menjanjikan karena dapat diterapkan di pekarangan rumah maupun lahan yang terbatas. Salain itu juga bisa dijadikan sebagai penghasilan tambahanuntuk keluarga.

“Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Mulai dari fase pembuatan kolam hingga panen lele, harus diperhatikan keseluruhannya agar hasil maksimal”, kata Kris, sapaan akrabnya.

Tahap pertama yang harus diperhatikan adalah persiapan kolam. Kolam terpal dianjurkan memiliki ukuran minimal 2x2 meter atau menggunakan kolam bulat diameter sekitar 2 meter dengan tinggi sekitar 110 sentimeter. Sebelum digunakan, kolam harus dibersihkan dan diisi air yang telah melalui proses treatment atau didiamkan selama 5–7 hari agar kualitas air lebih stabil.

Selanjutnya, pemilihan bibit menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan budidaya. Pembudidaya disarankan membeli benih langsung dari petani pembenihan terpercaya dengan kualitas unggul. Ukuran benih yang direkomendasikan berkisar 5–7 sentimeter dan berasal dari hasil sortiran pertama. Untuk kepadatan tebar, kisaran 150–300 ekor per meter persegi disesuaikan dengan kemampuan debit air yang tersedia.

Dalam aspek manajemen pakan, penggunaan pelet dengan kandungan protein sekitar 30–35 persen. Pemberian pakan dilakukan berdasarkan biomassa ikan, dengan frekuensi dua hingga tiga kali sehari, yaitu pagi dan sore atau ditambah malam. Ukuran pelet juga harus disesuaikan dengan ukuran ikan agar pertumbuhan berlangsung optimal.

“Pelet sebaiknya dibasahi terlebih dahulu menggunakan air atau dicampur probiotik sebelum diberikan kepada ikan. Selain itu, endapan amonia di dasar kolam perlu dibuang secara berkala untuk menjaga kualitas air dan mencegah gangguan kesehatan pada ikan”, tambah dia.

Selain pakan, manajemen air juga menjadi perhatian utama. Pada minggu pertama, tinggi air kolam dianjurkan sekitar 40 sentimeter, kemudian dinaikkan secara bertahap menjadi sekitar 60 sentimeter pada minggu kedua, 70 sentimeter pada minggu ketiga, 80 sentimeter pada minggu keempat hingga kelima, dan mencapai 90–100 sentimeter menjelang masa panen. Pengaturan ini bertujuan menjaga kualitas lingkungan hidup ikan sehingga pertumbuhannya tetap optimal.

Kris juga mengingatkan pentingnya perawatan rutin selama masa pemeliharaan. Penyortiran ukuran ikan juga harus dilakukan secara berkala agar pertumbuhan lebih merata dan mengurangi risiko kanibalisme.

Dirinya berharap agar masyarakat memperoleh pemahaman mengenai teknik budidaya lele yang benar. Sehingga dapat meningkatkan produktivitas sekaligus membuka peluang usaha baru. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....