Sikatan Aceh, Burung Misterius yang Masih Dicari Peneliti
- 08 Jul 2026 10:57 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Aceh menyimpan kekayaan avifauna yang tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia. Sejumlah spesies burung endemik hanya hidup di wilayah ini, mulai dari Cucak Aceh hingga Sikatan Aceh yang keberadaannya masih menjadi misteri bagi para peneliti. Wildlife fotografer sekaligus Aceh Birder Leader, Agus Nurza, mengatakan Aceh memiliki beberapa jenis burung endemik yang menjadi aset penting bagi konservasi satwa liar.
"Kalau khusus Aceh ada Cucak Aceh atau Aceh Bulbul yang hanya ada di Aceh. Kemudian ada juga beberapa jenis endemik lainnya, termasuk Sikatan Aceh yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya karena sudah sangat lama tidak ditemukan lagi di alam," ujar Agus dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh pada program Green Radio, Sabtu 4 Juli 2026.
Menurut Agus, Sikatan Aceh merupakan burung penyanyi berukuran kecil dengan panjang tubuh sekitar 10 sentimeter dan memiliki warna dominan biru. Burung tersebut diperkirakan hidup di kawasan hutan lebat yang masih alami.
Namun hingga kini, informasi mengenai spesies tersebut masih sangat terbatas. Bahkan, dokumentasi ilmiah yang tersedia hanya berasal dari spesimen awetan yang tersimpan di museum di Amerika Serikat.
"Suaranya pun belum pernah direkam. Informasi mengenai burung ini masih sangat sedikit sehingga menjadi salah satu misteri dalam dunia pengamatan burung di Aceh," katanya.
Selain itu, Agus menilai perubahan kondisi habitat turut memengaruhi keberadaan sejumlah jenis burung di Aceh. Aktivitas perburuan, penebangan hutan, hingga perilaku wisatawan yang tidak ramah lingkungan menyebabkan beberapa spesies semakin sulit dijumpai.
Ia mencontohkan sejumlah burung dari kelompok ayam-ayaman dan mandar yang dahulu mudah ditemukan di kawasan rawa maupun persawahan, kini populasinya terus menurun.
"Dulu burung mandar yang berwarna biru cukup banyak ditemukan di rawa-rawa. Sekarang sudah sangat sulit dijumpai karena banyak diburu. Kami bahkan pernah mendokumentasikan burung tersebut ditembak pemburu," ungkapnya.
Meski demikian, Agus mengatakan beberapa jenis burung dari kelompok ayam-ayaman masih dapat ditemukan di Aceh. Sementara itu, untuk burung puyuh Gonggong Sumatera yang merupakan spesies endemik Sumatera, populasinya masih dijumpai di Aceh dan sebagian wilayah Sumatera Utara.
"Untuk melihat langsung memang cukup sulit, tetapi suaranya masih bisa didengar di beberapa lokasi yang menjadi habitatnya," ujarnya.
Selama hampir dua dekade mendokumentasikan burung di Aceh, Agus mengaku tantangan terbesar adalah mengabadikan spesies-spesies yang langka dan sulit ditemui.
Ia menjelaskan proses pemotretan satwa liar membutuhkan kesabaran tinggi. Ada jenis burung yang dapat didokumentasikan dalam sehari, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
"Dalam buku Burung-Burung Aceh yang kami susun selama sekitar 18 tahun, ada spesies yang bisa dipotret hanya dalam satu hari. Namun ada juga yang baru berhasil kami abadikan setelah empat tahun, padahal kami sudah sering mendengar suaranya dan pernah melihatnya," kata Agus.
Menurutnya, dokumentasi dan penelitian yang berkelanjutan sangat penting untuk memperkaya data keanekaragaman hayati Aceh sekaligus mendukung upaya konservasi terhadap spesies-spesies burung yang semakin terancam akibat hilangnya habitat dan aktivitas manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....