Pengamatan Ungkap Elang Siwah Berkembang Biak di Aceh

  • 08 Jul 2026 10:58 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Penemuan elang Sikra atau yang dikenal masyarakat Aceh sebagai elang siwah berkembang biak di sejumlah wilayah Aceh menjadi temuan penting dalam dunia konservasi burung. Temuan tersebut mengubah anggapan sebelumnya yang menyebut spesies itu hanya merupakan burung migran.

Wildlife fotografer sekaligus Aceh Birder Leader, Agus Nurza, mengatakan tim pengamat burung menemukan elang siwah bersarang dan membesarkan anaknya di beberapa lokasi, seperti kawasan Darussalam, Banda Aceh, hingga wilayah Bireuen.

"Kami menemukan burung siwah bersarang dan berkembang biak. Padahal burung migrasi umumnya hanya singgah untuk mencari makan, bukan membuat sarang atau berbiak," kata Agus dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh pada program Green Radio, Sabtu 4 Juli 2026.

Menurut Agus, keberhasilan elang siwah berkembang biak menjadi bukti bahwa spesies tersebut merupakan burung penetap di Aceh, bukan sekadar burung yang bermigrasi melewati wilayah tersebut.

Ia menjelaskan, selama ini minimnya catatan ilmiah membuat keberadaan elang siwah sebagai burung penetap kurang terdokumentasikan. Padahal, berdasarkan cerita masyarakat sejak dahulu, burung tersebut memang telah lama dikenal hidup di Aceh.

"Orang-orang tua sebenarnya sudah mengenal burung siwah sejak lama. Kemungkinan yang kurang selama ini adalah jumlah pengamat burung sehingga datanya belum terdokumentasi dengan baik," ujarnya.

Agus menambahkan, elang termasuk kelompok burung yang memiliki tingkat reproduksi rendah. Dalam satu musim berkembang biak, seekor induk umumnya hanya menghasilkan satu hingga dua anak, sehingga keberhasilan menemukan sarang menjadi data yang sangat berharga bagi penelitian maupun upaya konservasi.

Selain temuan mengenai elang siwah, Agus menilai jumlah jenis burung di Aceh masih berpotensi terus bertambah seiring berkembangnya penelitian, terutama terhadap burung migrasi yang hingga kini belum seluruhnya terdokumentasikan.

Sementara itu, untuk kelompok burung penetap, penambahan jumlah spesies lebih mungkin terjadi melalui hasil penelitian taksonomi. Sejumlah burung yang selama ini dikategorikan sebagai subspesies berpeluang ditetapkan sebagai spesies tersendiri setelah melalui analisis ilmiah, termasuk penelitian genetik.

"Penambahan jenis bukan berarti muncul burung baru, tetapi karena hasil penelitian menunjukkan ada subspesies yang layak dipisahkan menjadi spesies tersendiri. Proses ini harus melalui kajian, termasuk analisis DNA," jelasnya.

Menurut Agus, potensi tersebut banyak ditemukan pada burung yang menghuni kawasan kepulauan di Aceh, seperti Simeulue dan pulau-pulau kecil lainnya, yang memiliki karakteristik habitat berbeda dibandingkan wilayah daratan Sumatra.

Ia juga memastikan kemungkinan terjadinya kawin silang antarspecies burung di habitat liar sangat kecil, sehingga perubahan klasifikasi lebih banyak dipengaruhi hasil penelitian ilmiah dibanding proses hibridisasi.

Agus menambahkan, Aceh juga memiliki sejumlah burung endemik Sumatra yang hanya dapat dijumpai di wilayah tertentu. Kekayaan biodiversitas tersebut dinilai menjadi aset penting yang perlu terus dijaga melalui penelitian dan upaya konservasi agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....