Mengenal Perbedaan Light Sleep dan Deep Sleep, Dua Fase Tidur yang Sama Pentingnya
- 12 Jul 2026 20:54 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Tidur bukan sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat, tetapi merupakan proses biologis yang terdiri dari beberapa tahapan dengan fungsi yang berbeda. Di antara tahapan tersebut, light sleep (tidur ringan) dan deep sleep (tidur nyenyak) menjadi dua fase yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental seseorang.
Berdasarkan penjelasan American Academy of Sleep Medicine (AASM), tidur dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Light sleep berada pada tahap awal NREM (N1 dan N2), sedangkan deep sleep berada pada tahap N3 atau yang dikenal sebagai slow-wave sleep, yaitu fase tidur paling dalam ketika aktivitas otak melambat dan tubuh menjalankan proses pemulihan secara maksimal.
Saat memasuki fase light sleep, detak jantung mulai melambat, suhu tubuh menurun, dan otot menjadi lebih rileks dibandingkan ketika masih terjaga. Meskipun demikian, seseorang masih relatif mudah terbangun apabila mendengar suara atau mendapatkan rangsangan dari lingkungan. Menurut National Sleep Foundation, sekitar 45 hingga 55 persentotal waktu tidur orang dewasa dihabiskan pada fase light sleep yang berfungsi sebagai jembatan menuju tidur yang lebih dalam.
Berbeda dengan light sleep, deep sleep merupakan fase ketika tubuh melakukan proses regenerasi terbesar. Pada tahap ini, hormon pertumbuhan dilepaskan lebih banyak untuk memperbaiki jaringan tubuh, memperkuat sistem kekebalan, serta membantu pemulihan otot setelah aktivitas sehari-hari. Aktivitas otak juga menghasilkan gelombang delta yang sangat lambat sehingga seseorang akan lebih sulit dibangunkan dibandingkan saat berada pada fase light sleep.
Pentingnya deep sleep juga dibuktikan melalui penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Reviews Neuroscience oleh Matthew P. Walker dan Robert Stickgold. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa tidur nyenyak berperan besar dalam proses konsolidasi memori, pembelajaran, serta pembuangan limbah metabolik di otak melalui glymphatic system. Kekurangan deep sleep dalam jangka panjang dikaitkan dengan meningkatnya risiko penurunan fungsi kognitif, gangguan metabolisme, penyakit jantung, hingga gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Sementara itu, bukan berarti light sleep kurang penting dibandingkan deep sleep. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Medicine Reviews menunjukkan bahwa fase light sleep membantu otak memproses informasi baru, menjaga stabilitas emosi, serta mempersiapkan tubuh memasuki fase tidur yang lebih dalam. Gangguan pada fase ini juga dapat menyebabkan seseorang sering terbangun di malam hari sehingga kualitas tidur secara keseluruhan ikut menurun meskipun durasi tidur terlihat cukup.
Para ahli menyarankan orang dewasa memperoleh waktu tidur 7 hingga 9 jam setiap malam agar seluruh siklus tidur, termasuk light sleep, deep sleep, dan REM, dapat berlangsung secara optimal. Menjaga jadwal tidur yang konsisten, mengurangi konsumsi kafein pada malam hari, membatasi paparan cahaya dari gawai sebelum tidur, serta menciptakan lingkungan kamar yang nyaman merupakan langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan kualitas kedua fase tidur tersebut sehingga tubuh bangun dalam kondisi lebih segar dan siap menjalani aktivitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....