Kupas Tuntas Artstyle Solo Debut 'Ice Cream' dari Yuna ITZY

  • 02 Mar 2026 13:50 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Solo debut Yuna lewat Ice Cream bukan cuma soal musik, tapi juga soal dunia visual yang dibangun sejak awal teaser. Lewat scheduler hingga ilustrasi karakter, rilisan dari JYP Entertainment ini terasa seperti membuka semesta baru yang berbeda dari citra ITZY selama ini.

Alih-alih mengusung konsep glam atau high-fashion seperti solo idol kebanyakan, visual debut ini justru tampil seperti halaman scrapbook pop lengkap dengan ilustrasi karakter, warna pastel, dan layout yang terasa personal. Seperti yang terlihat dalam scheduler resmi yang dirilis agensi, konsep visualnya sudah mulai membentuk narasi sebelum musiknya bahkan terdengar.

Gaya ilustrasi yang digunakan mengarah ke estetika dollcore atau fashion-doll inspired art, karakter dengan mata besar, tubuh ramping, dan pose santai tapi stylish. Banyak penggemar di komunitas visual K-pop di platform seperti Pinterest dan Behance menyebut gaya ini sebagai perpaduan antara Bratz-era fashion illustration dan komik pop 2000-an.

Sentuhan halftone pada shading juga menarik perhatian. Teknik titik-titik halus ini mengingatkan pada ilustrasi majalah cetak lama, sesuatu yang jarang dipakai dalam visual K-pop modern yang biasanya clean dan digital. Pendekatan ini memberi kesan tekstur analog, seolah dunia Ice Cream hidup di antara masa lalu dan masa kini. Pemilihan warna pun terasa tidak agresif. Tidak ada neon menyala seperti konsep Y2K pada umumnya. Sebaliknya, visualnya bermain di palet lembut seperti baby blue, lavender, soft pink, hingga butter yellow warna yang terasa seperti “rasa” daripada sekadar tone visual.

Font yang digunakan juga ikut membangun atmosfer. Tulisan “Yuna” dan “Ice Cream” tampil dengan serif dekoratif yang melengkung dan whimsical. Dalam dunia desain tipografi, gaya seperti ini sering dipakai untuk menciptakan nuansa cerita atau dongeng, bukan sekadar branding formal. Hal ini membuat debut ini terasa seperti membangun karakter, bukan hanya persona idol. Scheduler berbentuk notebook spiral dengan stiker dan pin kecil juga memperkuat kesan tersebut. Visualnya terasa seperti diary yang berubah menjadi panggung pop personal, playful, tapi tetap curated.

Seperti dicatat oleh beberapa akun analisis visual K-pop di X (Twitter) dan forum Reddit r/kpopthoughts, pendekatan seperti ini menunjukkan bagaimana debut solo modern kini tidak hanya bertumpu pada lagu, tetapi pada world-building visual yang konsisten sejak teaser. Solo Ice Cream akhirnya terasa bukan sekadar rilisan, tapi pembukaan dunia baru bagi Yuna.

Menarik untuk ditunggu bagaimana visual ini berkembang saat albumnya resmi dirilis nanti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....