Fenomena Second Account dan Psikologi Penggunanya

  • 30 Jan 2026 16:26 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Fenomena munculnya second account Instagram semakin marak, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Akun kedua ini biasanya digunakan untuk mengekspresikan diri secara lebih bebas, berbeda dengan akun utama yang bersifat publik dan terkurasi.

Second account sering dijadikan ruang aman untuk berbagi emosi, pendapat, atau kehidupan pribadi tanpa tekanan penilaian sosial. Banyak pengguna merasa lebih nyaman menjadi diri sendiri karena audiensnya terbatas pada orang-orang yang dipercaya.

Dari sudut pandang psikologis, penggunaan second account tidak selalu menunjukkan masalah mental. Dalam banyak kasus, hal ini justru merupakan bentuk mekanisme coping atau strategi adaptasi untuk mengelola identitas sosial di ruang digital.

Namun, kondisi ini bisa menjadi perhatian jika seseorang merasa tertekan, cemas, atau takut mengekspresikan diri di kehidupan nyata maupun akun utama. Ketergantungan berlebihan pada akun kedua untuk validasi emosional bisa menandakan adanya masalah kepercayaan diri atau kecemasan sosial.

Psikolog menilai bahwa perbedaan persona yang terlalu ekstrem antara akun utama dan second account juga patut diwaspadai. Ketidaksesuaian ini berpotensi memicu konflik batin, kelelahan emosional, hingga kebingungan identitas jika tidak dikelola dengan sehat.

Di sisi lain, perkembangan media sosial memang menuntut individu untuk menampilkan citra tertentu. Tekanan standar sosial, tuntutan pencitraan, serta budaya perbandingan hidup menjadi faktor utama yang mendorong seseorang membagi ruang digitalnya.

Kesimpulannya, memiliki second account Instagram bukanlah hal yang otomatis mengarah pada gangguan psikologis. Namun, penting bagi pengguna untuk tetap menyadari kondisi mentalnya, menjaga kejujuran pada diri sendiri, serta memastikan media sosial tetap menjadi alat ekspresi, bukan sumber tekanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....