Bertahan di Kala Krisis, Subandi Abdikan Diri Lestarikan Wayang Tatah Sungging

  • 19 Jul 2026 11:47 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul – Kerajinan tatah sungging wayang kulit di Padukuhan Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, pernah berjaya di masanya. Namun, kini jumlah perajin di wilayah ini semakin menyusut dan hanya menyisakan sekitar 30 orang.

Fenomena itu membuat salah satu perajin wayang kulit senior, Subandi Giyanto, berupaya mewariskan keahlian tersebut kepada anak-anak di lingkungan sekitar. Ditemui di kediamannya, pria 68 tahun ini terlihat tengah sibuk menyungging atau memberi warna pada permukaan wayang.

Subandi mengungkapkan dirinya sudah menggeluti dunia pembuatan wayang sejak tahun 1965. Keahlian itu ia dapatkan saat memperhatikan ayahnya yang merupakan perajin wayang kulit.

“Saya belajar dari bapak sejak tahun 1965. Bapak saya itu tukang wayang,” ucapnya, Selasa, 14 Juli 2026.

Dalam satu kali pengerjaan wayang, Subandi mengaku membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Terkait harga jual, pria yang juga seorang pelukis ini mengaku menjualnya senilai jutaan rupiah.

“Kalau seperti wayang Arjuna itu saya tawarkan sekitar Rp1,5 juta. Kalau lukisan wayang paling murah Rp7,5 juta. Jadi tidak bisa dibandingkan dengan melukis, walaupun tingkat kesulitan membuat wayang kulit itu tinggi,” ujarnya.

Subandi menambahkan, wayang kulit buatannya menggunakan bahan kulit kerbau. Bagi orang awam, menatah atau memahat pada media tersebut cukuplah menyulitkan.

“Saya menggunakan kulit kerbau tapi kalau untuk workshop-workshop dari luar negeri saya gunakan kulit kambing. Karena kalau pakai kulit kerbau akan patah tatahannya,” ucapnya.

Salah satu karya Subandi dari kulit kerbau yang diatatah menjadi wayang kulit. (Foto: RRI/Aji Permono)

Subandi pun bertekad untuk terus menjaga eksistensi kesenian lokal tersebut. Pasalnya, Padukuhan Gendeng dulunya dikenal sebagai pusat kerajinan wayang kulit.

“Pada tahun 90-an itu ada sekitar 346 perajin wayang kulit di sini. Sekarang tinggal 30-an yang bisa tatah sungging wayang,” katanya.

Menurutnya, semakin berkurangnya perajin di kampungnya merupakan dampak krisis ekonomi tahun 1998. Dengan kondisi ekonomi yang melemah, banyak perajin wayang di Padukuhan Gendeng yang memilih gulung tikar.

“Lalu ada gempa 2006 itu tambah hancur lagi. Terus ada pandemi Covid-19, bahkan semakin hancur. Akhirnya sekarang tinggal sedikit,” kata Subandi.

Meski jumlah perajin semakin terkikis, Subandi tak patah semangat untuk mengajarkan keterampilan membuat wayang kepada generasi pemuda. Setiap hari Sabtu, ia dengan telaten membimbing sejumlah anak di sekitar rumahnya untuk belajar menatah dan menyungging.

“Kalau hari Sabtu di sini bisa sampai 11 anak. Ini upaya saya bagaimana tetangga kiri kanan bisa ikut melestarikan tatah sungging ini,” ujarnya.

Bahan, Subandi juga memberikan insentif dan makan siang bagi anak-anak yang ingin belajar. Hal itu semata-mata ia lakukan agar kesenian tersebut bisa tetap eksis hingga masa depan.

“Biar mereka semangat saya kasih uang saku, dari uang pribadi. Jadi saya kasih Rp20 ribu dan siangnya saya beri makan siang juga,” ucapnya menambahkan.

Contoh hasil akhir dari kerajinan wayang kulit tatah sungging milik Subandi. (Foto: RRI/Aji Permono)

Sementara itu, Lurah Bangunjiwo, Parja menyatakan bahwa pemerintah kalurahan memberikan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan oleh perajin kawakan tersebut. Ia pun mengakui bahwa Padukuhan Gendeng mengalami krisis regenerasi perajin tatah sungging wayang kulit.

“Sekarang yang menekuni tatah sungging hanya ada sekitar 10 orang. Padahal dulunya di sini (Padukuhan Gendeng) mayoritas adalah perajin tatah sungging,” katanya.

Parja mengungkapkan, hingga saat ini Subandi terus berjuang mempertahankan warisan budaya tersebut dengan memberi peluang bagi anak-anak yang tertarik dengan dunia wayang kulit. Bahkan, upaya tersebut merambah ke berbagai wilayah lain di DIY.

“Pak Subandi ini sudah menekuni tatah sungging sejak kecil, turun temurun dari orang tuanya. Sampai saat ini beliau masih bertahan dengan mengajari anak-anak tidak hanya di Bangunjiwo saja, akan tetapi secara umum khususnya di DIY. Harapannya anak-anak ini bisa menjadi penerus dan membuka peluang untuk masa depan,” ucap Parja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....