Dibalik Sapu Lidi Pak Juman : Menyapu Jalan, Menyapu Harapan untuk Masa Depan

  • 16 Jul 2026 06:13 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Langit Rangkasbitung baru saja berubah terang. Kesibukan kota perlahan dimulai. Kendaraan berlalu-lalang, pedagang membuka lapak, dan warga bergegas menuju tempat kerja. Namun, sebelum hiruk-pikuk itu benar-benar terasa, seorang pria telah lebih dulu memulai aktivitasnya.

Di Jalan Patih Derus, Kabupaten Lebak, pria itu terlihat menyapu dedaunan kering dan sampah yang berserakan di pinggir jalan. Dengan gerakan yang tenang dan penuh ketelatenan, ia memastikan jalan tetap bersih untuk dilalui masyarakat.

Dialah Juman, pria berusia 52 tahun yang telah mengabdikan dirinya sebagai petugas kebersihan selama sembilan tahun di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak. Pekerjaan yang ia jalani mungkin sering dipandang sederhana. Namun bagi Juman, setiap helai daun yang disapu adalah bagian dari tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan sepenuh hati.

Aktivitasnya dimulai sejak selesai menunaikan salat Subuh. Saat sebagian besar warga masih bersiap memulai hari, Juman sudah mengayunkan sapu lidi di sepanjang jalan. Berbekal sapu lidi, pengki, dan ember sampah, ia menyusuri ruas Jalan Patih Derus dengan langkah yang sudah begitu akrab dengan pekerjaannya.

Sesekali ia berhenti sejenak untuk mengusap keringat di wajahnya. Beberapa pengguna jalan yang mengenalnya menyempatkan diri menyapa dan berbincang singkat. Senyum Juman selalu mengembang ketika membalas sapaan. Keramahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kesehariannya.

Di sela-sela pekerjaannya, Juman mulai berkisah tentang perjalanan hidupnya hingga menjadi petugas kebersihan. Awalnya, ia bekerja sebagai petugas kebersihan sukarelawan. Tanpa status yang jelas dan dengan penghasilan yang sangat terbatas, ia tetap menjalankan tugasnya setiap hari.

Beberapa waktu kemudian, statusnya berubah menjadi tenaga honorer. Meski belum memberikan jaminan masa depan, perubahan itu menjadi secercah harapan bagi dirinya dan keluarga. Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis. Pada tahun 2025, Juman diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lebak.

Bagi sebagian orang, status itu mungkin biasa saja. Namun bagi Juman, itu adalah hadiah terbesar setelah bertahun-tahun mengabdi. "Saya tidak pernah menyangka akhirnya bisa diangkat menjadi PPPK. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Yang penting saya bisa terus bekerja dengan halal dan menafkahi keluarga," ujar Juman, Rabu, 15 Juli 2026.

Penghasilan yang diterimanya memang tidak besar. Namun ia tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang dijalaninya. "Rezeki memang tidak banyak, tapi kalau disyukuri selalu cukup. Saya hanya ingin keluarga bisa hidup dengan baik," katanya sambil tersenyum.

Di balik kesederhanaannya, Juman menyimpan tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga dan ayah dari tiga orang anak. Hingga kini, ia mengaku belum mampu memiliki rumah sendiri.

Bersama keluarganya, ia masih tinggal di rumah yang sederhana. Meski demikian, keterbatasan ekonomi tidak pernah membuatnya menyerah terhadap pendidikan anak-anaknya.

Kedua anaknya berhasil ia sekolahkan hingga tingkat aliyah di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lebak. Baginya, pendidikan adalah investasi terbaik yang dapat diwariskan.

"Saya ingin anak-anak sekolah setinggi mungkin. Kalau mereka bisa kuliah, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidup saya," ucap Juman dengan mata yang berbinar.

Selain melihat anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi, Juman juga memiliki satu impian sederhana yang terus ia simpan dalam doa. "Saya hanya ingin suatu hari nanti punya rumah sendiri. Rumah yang sederhana saja sudah cukup, yang penting keluarga punya tempat tinggal yang benar-benar milik kami," katanya lirih.

Waktu terus berjalan. Matahari mulai meninggi, lalu lintas semakin padat, dan pekerjaan Juman pun belum selesai. Perbincangan harus diakhiri karena masih banyak ruas jalan yang menunggu untuk dibersihkan.

Dengan sapu lidi di tangan, ia kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa banyak kata. Di tengah kesibukan kota yang sering kali melupakan orang-orang di balik layar, Juman mengajarkan bahwa kemuliaan bukan diukur dari tinggi rendahnya profesi, melainkan dari keikhlasan menjalankan amanah.

Dari sapu lidi yang setiap pagi ia ayunkan, tersimpan pelajaran tentang kerja keras, rasa syukur, dan harapan seorang ayah yang tak pernah berhenti bermimpi agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....