Bertahun-Tahun Berdoa, Harapan Nazir Akhirnya Menemukan Jawaban

  • 15 Jul 2026 14:19 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Belitung - Setiap kali hujan turun, Nazir (44) hanya bisa berharap air tidak terlalu banyak masuk ke dalam rumahnya. Ketika angin berembus kencang, ia kembali berharap dinding-dinding rumah yang tersusun dari papan lapuk, spanduk bekas, terpal, dan lembaran seng itu tetap mampu berdiri melindungi istri dan anak-anaknya.

Harapan kecil itu telah menjadi bagian dari kehidupan Nazir selama bertahun-tahun.

Di sebuah sudut Desa Perawas, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, rumah berukuran sekitar 3 x 3 meter itu menjadi saksi perjuangan Nazir bersama istrinya, Mardiana, dan ketiga anak mereka menjalani hidup dengan segala keterbatasan.

Dari luar, rumah tersebut tampak jauh dari kategori layak huni. Atap seng terlihat kusam dan sebagian mulai mengalami kerusakan. Dinding rumah tersusun dari berbagai material bekas yang dipasang seadanya untuk menutup celah. Tiang-tiang kayu menjadi penyangga bangunan sederhana yang setiap saat menimbulkan kekhawatiran ketika cuaca buruk datang.

Halaman rumah masih berupa tanah tanpa lantai permanen maupun saluran pembuangan air. Tidak jauh dari bangunan utama, berdiri kamar mandi sekaligus WC sederhana yang kondisinya tidak jauh berbeda. Dindingnya hanya tertutup spanduk dan kain lusuh, sementara lantainya masih berupa tanah.

Nasir saat diwawancarai RRI di luar rumahnya. (Foto : Arif/RRI)

Di rumah itulah Nazir membesarkan keluarganya selama tujuh hingga delapan tahun terakhir.

Sebagai kepala keluarga, Nazir bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan. Ada hari ketika ia pulang membawa penghasilan, namun tidak sedikit pula ia harus kembali ke rumah tanpa membawa uang.

"Kadang ada pekerjaan, kadang tidak ada. Saya punya istri dan anak yang harus dinafkahi. Kalau tidak ada pekerjaan tentu sedih. Tapi saya tidak mau menyerah. Saya tetap berusaha bekerja semampunya," ucap Nazir saat ditemui RRI, Rabu 15 Juli 2026.

Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, Nazir tetap berusaha agar anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Satu anaknya masih berusia balita, sementara satu anak lainnya duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.

Ia tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama seperti dirinya yang harus berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.

"Saya dulu tidak sempat melanjutkan sekolah karena orang tua tidak mampu membiayai. Waktu itu saya berhenti sekolah di kelas 4 SD," katanya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Nazir mengaku tidak pernah berhenti berdoa agar suatu hari keluarganya bisa menempati rumah yang lebih layak.

Doa yang selama ini ia panjatkan perlahan mulai menemukan jawaban.

Harapan itu muncul ketika Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Kabupaten Belitung melakukan pendampingan terhadap salah satu anak Nazir melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).

Dalam proses pendampingan tersebut, petugas melihat langsung kondisi tempat tinggal keluarga Nazir yang dinilai sudah tidak layak huni.

Kabar mengenai kondisi rumah itu kemudian membuka jalan bagi Nazir untuk mendapatkan bantuan pembangunan Rumah Layak Huni melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

"Alhamdulillah. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu keluarga kami," ujar Nazir dengan wajah penuh syukur.

Kondisi Kamar Mandi milik Nazir yang terletak di sebelah rumahnya. (Foto : Arif/RRI)

Bagi Nazir, bantuan tersebut bukan sekadar pembangunan sebuah rumah baru. Rumah itu menjadi simbol harapan setelah bertahun-tahun keluarganya bertahan di tengah keterbatasan.

Tidak lama lagi, rumah dengan dinding spanduk dan papan lapuk yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarganya akan berubah menjadi hunian yang lebih aman dan layak bagi istri serta anak-anaknya.

Kepala DPPKBPMD Kabupaten Belitung, Fari mengatakan, bantuan rumah tersebut bermula dari temuan pihaknya saat melakukan pendampingan keluarga berisiko stunting.

Menurutnya, kondisi rumah Nazir kemudian disampaikan kepada PT Angkasa Pura yang menjadi mitra Program GENTING melalui program CSR.

"Kami melihat langsung kondisi rumah keluarga ini yang memang sudah tidak layak huni. Kebetulan PT Angkasa Pura juga memiliki program CSR pembangunan Rumah Layak Huni. Dari hasil koordinasi tersebut, akhirnya keluarga ini ditetapkan sebagai penerima bantuan," ujar Fari.

Ia menjelaskan, pembangunan rumah tersebut menjadi bagian dari upaya pendampingan keluarga berisiko stunting yang masih akan berlangsung selama 13 bulan ke depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....