Kirab Siti Inggil, Menjaga Tradisi dan Satukan Doa Warga Lirboyo

  • 05 Jul 2026 14:55 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Prosesi Kirab Siti Inggil Kota Kediri dimulai dengan siraman gunungan hasil bumi, sebuah simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki sekaligus doa untuk keberkahan ke depan

RRI.CO.ID, Kediri - Pada Minggu pagi di Kelurahan Lirboyo, Kota Kediri, terasa berbeda. Jalan-jalan yang biasanya dilalui warga kini dipenuhi warna-warni pakaian adat, iringan musik tradisional, dan deretan gunungan hasil bumi yang tersusun rapi. Suasana penuh kegembiraan itu menjadi penanda digelarnya Kirab Budaya Pesanggrahan Siti Inggil.

Di tengah semarak tersebut, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, yang akrab disapa Mbak Wali, secara resmi memberangkatkan kirab pada 5 Juli 2026. Prosesi dimulai dengan siraman gunungan hasil bumi, sebuah simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki sekaligus doa untuk keberkahan ke depan.

Gunungan yang diarak bukan sekadar hiasan. Jagung, sayur-mayur, buah-buahan, hingga hasil kebun warga tersusun membentuk simbol kemakmuran.

Namun semua itu, merupakan hasil gotong royong warga dari delapan RW dan perwakilan 28 RT yang dengan penuh antusias turut ambil bagian. Sepanjang rute kirab, suasana semakin hidup. Arak-arakan benda pusaka berjalan berdampingan dengan pertunjukan jaranan dan tari kreasi yang memikat perhatian warga.

Anak-anak hingga orang dewasa tampak larut dalam kegembiraan, mencerminkan kekayaan budaya yang masih terjaga. Kirab ini mengambil rute dari Jalan Sitinggil, melintasi Jalan Kademangan, Jalan Semeru, dan Jalan Penanggungan, sebelum kembali lagi ke titik awal.

Di sepanjang jalan, warga berdiri di tepi rute, mengabadikan momen sekaligus menyaksikan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Bagi Vinanda, kirab ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia melihatnya sebagai ruang bersama untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

"Tradisi seperti ini harus terus dijaga. Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga media edukasi agar generasi muda mengenal dan mencintai budaya daerahnya," kata Vinanda.

Ia juga menekankan bahwa gunungan hasil bumi menjadi bukti nyata kekompakan warga. Dari proses pengumpulan hingga penyusunan, semuanya melibatkan partisipasi aktif masyarakat tanpa terkecuali.

Lebih jauh, kirab budaya ini diharapkan tidak hanya berdampak pada pelestarian tradisi, tetapi juga mampu menggerakkan sektor lain. Mbak Wali menilai kegiatan seperti ini berpotensi mendorong pariwisata lokal dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

"Budaya adalah perekat. Ketika kita menjaganya bersama, maka kerukunan dan kekompakan akan terus terbangun," ucapnya.

Semangat itu terasa nyata di Lirboyo. Warga tak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama yang menjaga tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Salah satu warga di Kota Kediri, Kezia menyebutkan, sangat senang bisa melihat Kirab Siti Inggil tersebut. Sebab, di tengah perkembangan zaman modern seperti sekarang, generasi muda patut memahami masih ada wujud pelestarian budaya.

"Tadi juga sempat foto-foto, jadi dokumentasi kirab ini bisa buat kenang-kenangan di rumah dan pengingat kalau Kota Kediri juga memiliki agenda budaya yang masih terjaga," kata Kezia.

Dengan keterlibatan lintas generasi, Kirab Budaya Pesanggrahan Siti Inggil menjadi lebih dari sekadar perayaan. Agenda itu menjelma menjadi ruang belajar, ruang kebersamaan, sekaligus pengingat bahwa identitas budaya adalah warisan berharga yang harus dijaga bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....