Ruwatan, Ikhtiar Menyucikan Diri dalam Tradisi Jawa
- 05 Jul 2026 16:20 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Sebagai salah satu tradisi dalam masyarakat Jawa, ruwatan tidak sekadar dipahami sebagai sebuah ritual. Tradisi ini mengandung makna filosofis tentang upaya menghilangkan energi negatif, menyucikan diri, serta memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari mara bahaya.
“Makna ruwatan ini adalah dihilangkan keringat-keringat yang jelek, yang melengket di paribadi sukerta. Kalau sudah hilang, maka tidak ada yang mengganggu perjalanan dalam hidup, jalan yang dilalui juga semakin terang," ujar Dalang Ruwatan, Ki Subandi Marsudi Carito, kemarin.
Sementara itu Budayawan, Supriyanto, menjelaskan ruwatan dalam tradisi Jawa pada awalnya ditujukan kepada orang-orang yang tergolong sukerta atau orang yang perlu diruwat. Kategori tersebut di antaranya anak tunggal, anak kembar, maupun anak yang lahir dalam susunan tertentu di dalam keluarga.
Seperti dua, tiga, empat, atau lima bersaudara dengan komposisi jenis kelamin yang memiliki penamaan khusus dalam tradisi Jawa, agar mereka terbebas dari segala sengkala atau marabahaya.
Ia mengungkap makna ruwatan tidak hanya terbatas pada penyucian diri seseorang. Tradisi ini juga dapat diterapkan pada tempat maupun benda sebagai bentuk pembersihan terhadap hal-hal yang terlihat maupun tidak terlihat.
“Ruwat itu keluar, terbebas, tujuannya membersihkan diri seseorang baik lahir maupun batin. Awalnya begitu, tapi juga ruwatan ini berlaku pada suatu tempat. Suatu benda juga perlu diruwat. Jadi ruwatan itu pembersihan,” ujar Supriyanto.
Sebelum prosesi ruwatan dimulai, setidaknya ada 57 macam sesaji yang wajib disiapkan oleh panitia. Sesaji atau sajen tersebut terdiri aneka hasil bumi, perkakas dapur, hingga air yang diambil khusus dari tujuh sumber sumur terpilih.
Secara umum, sajen tersebut memiliki makna simbolis yang sarat akan pesan moral, edukasi, dan wujud doa permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta. Tidak hanya kelengkapan sesaji, para sukerta pun harus menjalani persiapan khusus, termasuk melakukan laku prihatin dengan menahan hawa nafsu sebelum prosesi ruwatan diselenggarakan.
Adapun rangkaian prosesi ruwatan diawali dengan kirab sukerta, dilanjutkan sungkeman kepada orang tua. Setelah itu, peserta mengikuti ritual pager-pager, kemudian melihat pagelaran wayang dengan lakon Murwakala yang dibawakan oleh dalang ruwatan.
Dalang ruwatan kemudian melantunkan mantra saat akan melakukan prosesi tigas rikma atau pemotongan rambut, sebagai simbol menghilangkan kotoran dalam diri. Selanjutnya, para sukerta menjalani siraman menggunakan air dari tujuh sumber, sebelum prosesi ruwatan ditutup dengan murak sesaji atau berebut sesaji serta kupat luwar atau mengurai ketupat yang bermakna membebaskan diri dari segala halangan.
Prosesi ruwatan yang digelar RRI Madiun akhir Juni lalu menarik antusiasme masyarakat dari berbagai daerah. Salah satunya Budiono Santoso, peserta asal Kabupaten Magetan yang mendaftarkan kedua anak laki-lakinya yang dalam tradisi Jawa termasuk kategori uger-uger lawang untuk mengikuti prosesi ruwatan.
Ia memandang ruwatan sebagai ikhtiar dan doa, sekaligus berharap kedua anaknya senantiasa memperoleh keselamatan, kemudahan dalam menjalani kehidupan, serta keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.
"Harapan saya sebagai orang tua, secara otomatis anak itu selamat di dunia dan di akhirat. Dua-duanya karirnya lancar, rezeki lancar, dan tidak ada sesuatu apapun yang mengganggu. Semuanya diberkati dan diberkati oleh Allah SWT," tutur Budi.
Di tengah berlangsungnya prosesi ruwatan, kehadiran generasi muda di antara para penonton menjadi gambaran bahwa tradisi ini masih menarik perhatian lintas usia. Salah satunya, Amelia, yang pertama kali menyaksikan langsung jalannya ruwatan. Ia mengungkapkan kesan dan pandangannya terhadap tradisi tersebut.
"Menurut saya, ruwatan itu merupakan doa sekaligus harapan agar kita diberi keselamatan, perlindungan, dan selalu terjaga. Tanggapan saya setelah menyaksikan ruwatan, tradisi ini sangat menarik. Sejujurnya, sebelumnya saya belum pernah melihat prosesi ruwatan secara langsung. Ternyata, ruwatan bukan hanya menampilkan seni tradisional, tetapi juga mengandung nilai budaya, nilai sejarah, serta nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk menghargai identitas budaya Jawa," jelas Amelia.
Bagi sebagian masyarakat, ruwatan dimaknai sebagai doa yang diwujudkan melalui tradisi. Di tengah pesatnya perkembangan zaman, nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan ajaran moral yang terkandung dalam ruwatan diharapkan tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....