Air Mata dan Makaroni, Kisah Asep Bangkit dari Rugi Rp400 Juta
- 30 Jun 2026 17:05 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya- Aroma cabai kering dan daun jeruk menyeruak, begitu pintu gudang dibuka pukul satu siang. Sang pemilik, Asep, menatap ratusan kemasan makaroni siap edar yang berjejer rapi setinggi pinggang.
Pria berusia 53 tahun itu duduk bersila, menekan kakinya yang pegal akibat terlalu lama berdiri melayani pembeli. Di ruangan itulah, dia berulang kali tersungkur dan merangkak naik demi mengubah nasib di tanah perantauan.
"Wah, kalau ngomongin usaha, sudah seperti gelombang naik turun, tetapi namanya kita usaha pantang untuk menyerah," kata perantau asal Tasikmalaya itu, Senin, 29 Juni 2026.
Langkah kakinya di Palangka Raya dimulai pada tahun 1990 ketika mengikuti sang paman yang berjualan perabotan rumah tangga. Setelah sepuluh tahun memiliki pengalaman berdagang, ia pun memutuskan untuk mandiri.
Asep sempat mencoba peruntungan berdagang sayur selama dua tahun, sebelum akhirnya menekuni usaha makaroni pada 2012. Ide bisnis itu muncul setelah istrinya menggemari camilan tersebut.
"Karena waktu kan kami buka warung, jadi sambil menunggu pembeli istri sering nyemil makaroni," ucapnya.
Ayah empat anak itu mulai mencoba memproduksi makaroni di rumah dengan peralatan ala kadarnya. Usaha itu diberi nama Nurul Azkia, yang diambil dari nama putri bungsunya.
Pada masa awal produksi, rumahnya sering kali riuh oleh gemuruh minyak panas yang menggoreng makaroni di malam hari. Istri dan anak-anaknya pun saling bahu-membahu membungkus camilan tersebut ke dalam wadah plastik.
Tak jarang, jari-jarinya kerap kebas karena mengejar target produksi. Pasalnya, sebelum matahari terbit, camilan itu harus dijajakan ke kios-kios di Pasar Palangka Raya.
Seiring meningkatnya permintaan, ia pun memberanikan diri membeli mesin pengemas makanan. Berbekal kepercayaan, mesin tersebut diboyong dengan pembayaran dicicil.
"Waktu itu saya beli mesin bekas sekitar Rp40 jutaan. Tapi karena baru memulai usaha, uang pun mepet, akhirnya saya bayar setengah dulu, sisanya saya cicil," ungkapnya.
Berkat mesin itu, proses pengemasan jauh lebih mudah. Mesin tersebut secara otomatis mengemas makaroni ke dalam kantong plastik kecil, sehingga ia hanya perlu mengawasi.
Setelah urusan produksi beres, fokusnya beralih pada pemasaran. Dia mulai merekrut lima karyawan yang ditugaskan sebagai tim pemasaran. Namun, langkah itu sempat terkendala operasional karena ketiadaan kendaraan.
Beruntung, masalah itu dapat teratasi berkat suntikan modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp25 juta. Dana tersebut kemudian dialokasikan untuk membeli kendaraan operasional.
"Saya beli sepeda motor bekas. Pada waktu itu yang penting kendaraannya bisa jalan aja dulu, karena kasian kalau harus pake sepeda karena di sini jaraknya jauh-jauh," ujarnya.
Setiap hari, para sales tersebut keluar masuk desa untuk menjajakan cemilan tersebut. Usaha pun berkembang pesat, hingga ia berhasil membuka cabang di berbagai wilayah Kasongan, Tumbang Samba, Kuala Kurun, bahkan Tanjung di Kalimantan Selatan.
Namun, di puncak ekspansi, musibah datang. Asep harus menelan kerugian hingga Rp400 juta pada 2017. Petaka itu terjadi karena ia terlalu percaya pada karyawan yang mengelola cabang di luar kota.
"Saya ini cuman lulusan sekolah dasar, ilmu manajemen gak terlalu menguasai dan hanya bisanya berdagang. Makanya saat usaha, pada waktu itu menyerahkan ke orang lain untuk mengelolanya," keluhnya.
Di tengah situasi pelik itu, secercah harapan kembali datang. Dukungan modal dari BRI sebesar Rp50 juta menyelamatkanya. Dana itu digunakan untuk membeli mesin pengemas tambahan untuk menambal kerugiannya.
Demi membantu para pekerja yang tersisa, dia pun ikut turun melakukan pemasaran. Setiap harinya ia harus menempuh jarak ratusan kilo untuk memasarkan produk tersebut.
Namun, cobaan kembali mengujinya. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Trans Kalimantan saat perjalanan pulang dari Tewah, Gunung Mas. Akibat kelelahan, mobilnya masuk ke parit dan melukai salah satu pekerjanya.
"Karena waktu itu benturannya cukup keras, satu pekerja pekerja saya terluka dan kami bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara. Sampai sekarang bibirnya sumbing," katanya.
Setelah kejadian tersebut, ia memutuskan menghentikan distribusi ke luar kota. Asep mulai fokus memperkuat jaringan pasar dan warung di wilayah Palangka Raya.
Belum genap dua tahun, pandemi Covid-19 melanda. Kebijakan pembatasan sosial membuat pasar sepi dan produksi mandek. Mesin
produksinya mendingin akibat tidak adanya pesanan.
"Di zaman Covid-19 yang sempat bingung. Usaha sempat mandek, sementara saya juga harus membayar pekerja dan kebutuhan rumah tangganya harus terpenuhi, mau tidak mau uang tabungan akhirnya terkuras untuk menambalnya," ujarnya.

Untuk memulihkan kembali usahanya, Asep kembali mendapatkan akses permodalan ketiga dari BRI sebesar Rp50 juta. Uang itu digunakan untuk membeli bahan baku makaroni dan plastik pengemasan.
Pemasaran produknya pun kembali menemukan jalan keluar, berkat obrolan dengan pemilik warung perkebunan sawit yang sedang berbelanja di Pasar Besar Palangka Raya.
Bermodal nekat, ia menawarkan produknya dengan sistem titip jual. Tak disangka, camilannya menjadi incaran bagi para pekerja di tengah kepungan perkebunan sawit.
"Makaroni ini awet dan tahan lama, masa kedaluwarsanya bisa sampai dua bulan," katanya.
Dia juga memutar otak dengan mencantumkan nomor telepon pada setiap kemasan. Strategi itu berbuah manis untuk memudahkan para pelanggan untuk memesan kembali secara langsung saat mereka melakukan perjalanan mingguan ke kota.
Roda nasibnya pun berputar, hingga merambah ke kantin sekitar area pertambangan. Kini, tempat produksinya tak pernah sepi. Setiap pekan, pelanggan datang membeli makaroni setelah berbelanja kebutuhan pokok di pasar kota.
"Akhirnya sampai sekarang, mereka selalu beli setiap minggu jika ke kota. Hikmahnya jadi saya gak perlu berjualan ke luar kota lagi, para pelanggan baru ini datang langsung rumah saya," ucapnya.
Untuk camilan makaroninya dijual seharga Rp130 ribu per bal, yang berisi 200 kemasan. Ada tiga varian rasa yang tersedia, yaitu pedas, jagung manis dan original.
Saat ini, usaha yang berlokasi Jalan Meranti di Palangka Raya tersebut memiliki satu orang pekerja. Dari ketekunannya menghadapi ujian hidup, Asep mengantongi omset dari semula Rp5 juta menjadi Rp30 juta per bulan.
Salah satu pelanggannya, Sigit, mengaku sengaja membeli langsung ke lokasi produksi, untuk mendapatkan harga terbaik demi mencari selisih keuntungan saat dijual kembali di area perkebunan sawit Kabupaten Gunung Mas.
"Karena saya kan buat dijual lagi, makanya saya ambil langsung ke gudangnya, dengan harga yang lebih murah," katanya.
Geliat usaha mikro yang digerakkan oleh Asep mampu menghidupkan ekonomi para pelapak di daerah, hal itu menjadi salah satu potret nyata dari dampak penyaluran modal usaha yang tepat sasaran.
Sejalan dengan hal itu, Direktur Bisnis Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyampaikan mayoritas penyaluran KUR masih berada pada sektor produktif yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, kewirausahaan dan UMKM.
“Melalui akses pembiayaan yang inklusif dan tepat sasaran, pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional,” ucapnya.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Palangka Raya, John Budiman Bancin, mengatakan UMKM merupakan sektor paling rentan terhadap guncangan ekonomi bila dipicu oleh pandemi, inflasi, ataupun krisis finansial.
Jika kondisi itu terjadi, maka akan berdampak pada kemampuan UMKM untuk melakukan kegiatan produksi dan penjualan yang tidak stabil. Untuk mengatasi itu, salah satunya dengan memberikan stimulus ekonomi berupa KUR.
"Penyaluran KUR itu menjadi penyelamat untuk mencegah terjadinya kebangkrutan UMKM. Dengan dana tersebut pelaku usaha dapat melakukan restrukturisasi, membeli bahan baku kembali, dan mempertahankan tenaga kerja," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....