Masjid Agung Al-A'raf Warisan Sejarah Religi Kebanggaan Masyarakat Lebak

  • 30 Jun 2026 10:53 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Di jantung Kota Rangkasbitung berdiri sebuah bangunan yang bukan sekadar tempat ibadah. Masjid Agung Al-A'raaf menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Kabupaten Lebak, pusat syiar Islam, sekaligus ruang kebersamaan masyarakat yang terus hidup hingga kini. Masjid Agung Al-A'raaf atau yang dikenal sebagai Masjid Agung Rangkasbitung dibangun pertama kali pada tahun 1928 di atas tanah wakaf seluas sekitar 3.264 meter persegi.

Sejak awal, masjid ini dirancang sebagai Masjid Agung Kabupaten Lebak. Lokasinya yang berada tepat di samping Alun-Alun Rangkasbitung menjadikan masjid ini selalu ramai dikunjungi masyarakat, baik untuk beribadah maupun berwisata religi. Ukuran bangunan yang luas menjadi bukti sejak awal para pendirinya telah mempersiapkan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Lebak.

Perjalanan hampir satu abad tentu meninggalkan berbagai tantangan. Seiring bertambahnya usia bangunan, Masjid Agung Al-A'raaf beberapa kali mengalami renovasi besar. Renovasi pertama dimulai pada tahun 1988 dan selesai pada tahun 2002 dengan anggaran sekitar tiga miliar rupiah pada masa pemerintahan Bupati Yasa'a Mulyadi.

Dua tahun kemudian, rekonstruksi kembali dilakukan. Bangunan yang berdiri saat ini merupakan hasil pembangunan tahun 2004 dengan biaya sekitar 17,5 miliar rupiah pada masa Bupati Mulyadi Jayabaya.

Meski mengalami perubahan fisik, nilai sejarah dan fungsi masjid tetap dipertahankan sebagai pusat ibadah umat Islam Kabupaten Lebak. Salah satu ciri khas Masjid Agung Al-A'raf adalah perpaduan arsitektur klasik Jawa dengan sentuhan modern yang menjadikan tampilannya berbeda dari kebanyakan masjid lainnya.

Atap limasan bergaya tradisional Nusantara tetap dipertahankan sebagai identitas budaya lokal, sementara elemen bangunan modern melengkapi kenyamanan jamaah. Bagian depan masjid memiliki struktur persegi panjang yang berfungsi sebagai penahan cahaya matahari sehingga ruang utama tetap terasa sejuk.

Keunikan lainnya terlihat pada menara tunggal yang ramping dengan gazebo di puncaknya. Gazebo tersebut memiliki delapan jendela yang memungkinkan pengunjung menikmati panorama Kota Rangkasbitung dari ketinggian.

Puncak menara dihiasi kaligrafi bertuliskan "Allah" yang menjadi simbol keagungan rumah ibadah ini. Menara tersebut juga terbuka bagi wisatawan yang ingin melihat keindahan kawasan sekitar masjid.

Namun, bukan hanya bangunannya yang menarik perhatian. Masjid Agung Al-A'raaf juga memiliki sebuah meriam tua yang masih digunakan hingga sekarang. Meriam itu setiap tahun dibunyikan sebagai penanda waktu berbuka puasa dan sahur selama bulan Ramadan.

Penasihat DKM Masjid Agung Al-A'raaf, Eri Hidayat, menjelaskan tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama. "Suara meriam ini bisa terdengar hingga sekitar lima kilometer. Tradisi ini kami pertahankan sebagai bagian dari sejarah dan identitas Masjid Agung Al-A'raf," ujar Eri, Senin, 29 Juni 2026.

Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan masyarakat. Setiap bulan Ramadan, berbagai kegiatan digelar mulai dari buka puasa bersama, salat berjamaah, pengajian hingga salat tarawih.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah masyarakat Kabupaten Lebak. "Ramadan di masjid ini selalu dipenuhi kegiatan. Setelah berbuka dan salat Magrib, jamaah mengikuti pengajian hingga waktu Isya, lalu dilanjutkan salat Tarawih bersama," katanya.

Di balik aktivitas masjid, ada sosok sederhana yang mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun, yakni marbot Masjid Agung Al-A'raf, Ocong Suryadi. Sejak tahun 1970, Ocong meneruskan pengabdian yang sebelumnya dijalankan almarhum ayahnya.

Setiap Ramadan, pria yang telah puluhan tahun menjadi marbot ini bertugas membunyikan meriam sebagai penanda berbuka puasa dan sahur. "Saya sudah mengenal setiap sudut masjid ini. Saya merasa bangga bisa mengabdikan hidup di rumah Allah dan meneruskan amanah dari almarhum ayah," ujar Ocong.

Kecintaan Ocong terhadap masjid membuatnya tetap bertahan menjalankan tugas meski telah puluhan tahun berlalu. Di kompleks Masjid Agung Al-A'raf juga terdapat makam Adipati Natanegara yang pernah menjabat sebagai Bupati Lebak pada era 1830-an.

Masjid terdiri atas dua lantai. Lantai dasar digunakan sebagai perkantoran DKM serta Raudhatul Athfal, sedangkan lantai atas menjadi ruang utama ibadah. Keberadaan fasilitas pendidikan menunjukkan masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat pembinaan generasi muda. Remaja Masjid Agung Al-A'raf secara rutin menggelar berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan.

Salah seorang anggota Remaja Masjid, Dadi Saeful Hidayat, mengatakan kegiatan kepemudaan terus berkembang. "Masjid ini menjadi tempat kami belajar, berkegiatan, berdiskusi, dan mengembangkan organisasi kepemudaan. Banyak kegiatan positif yang kami lakukan di sini," kata Dadi.

Hampir satu abad berdiri, Masjid Agung Al-A'raaf tetap menjadi simbol sejarah, pusat syiar Islam, ruang pembinaan masyarakat, sekaligus destinasi wisata religi kebanggaan Kabupaten Lebak. Dari dentuman meriam tua, arsitektur yang khas, hingga pengabdian para pengurusnya, masjid ini terus menjaga warisan masa lalu untuk generasi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....