Melestarikan Tradisi, Merajut Kebhinekaan

  • 01 Jun 2026 09:16 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Tradisi jelang Ramadan di Indonesia yang masih dilestarikan dan penuh makna, mencerminkan kekayaan budaya, nilai religius, dan simbol semangat kebersamaan masyarakat menyambut bulan suci. Melansir dari situs kemenparekraf.go.id, berikut ini tradisi menyambut ramadan di daerah-daerah Indonesia:

Dugderan (Semarang, Jawa Tengah)

Dugderan adalah tradisi khas Semarang yang ditandai dengan pawai budaya dan festival rakyat. Tradisi ini berasal dari suara bedug ("dug") dan petasan ("der"), sesuai namanya, tradisi ini diisi dengan memukul bedug dan menyalakan petasan, yang menandakan awal Ramadan. Ikon utama dari Dugderan adalah Warak Ngendog, sebuah hewan mitologi yang melambangkan akulturasi budaya Arab, Cina dan Jawa dalam masyarakat Semarang. Tradisi ini dilaksanakan sejak pagi hari sampai menjelang Maghrib.

Selain parade dan pawai budaya, Dugderan juga menghadirkan pasar malam yang menjual berbagai makanan dan pernak-pernik khas Ramadan. Tradisi ini telah menjadi daya tarik wisata yang banyak dinantikan oleh warga Semarang dan sekitarnya.

Di Semarang, masyarakat menggelar Dugderan sebagai pesta rakyat menyambut datangnya bulan suci. Perayaan ini menjadi bagian dari kearifan lokal menyambut Ramadan yang masih lestari hingga kini.

Perlon Unggahan (Banyumas, Jawa Tengah)

Mengutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun dan dilakukan sekitar seminggu sebelum puasa. Kegiatan utama adalah ziarah ke makam leluhur tanpa alas kaki sambil membawa nasi ambeng, sebagai simbol ketulusan dan penghormatan.

Setelah prosesi ziarah dan doa bersama, warga makan bersama dengan hidangan tradisional seperti nasi bungkus, serundeng dan sayur berkuah.

Pisowan (Banyumas, Jawa Tengah)

Masyarakat Banyumas melakukan Pisowanan sebagai persiapan Ramadan dengan mengunjungi makam orang tua atau leluhur. Kegiatan ini bertujuan memohon doa dan keberkahan sebelum bulan puasa. Setelah ziarah, masyarakat biasanya mengadakan kenduri atau makan bersama. Makanan dibagikan kepada keluarga dan warga sekitar sebagai bentuk rasa syukur. Pisowanan menekankan nilai hormat kepada leluhur, kebersamaan dan silaturahim yang dijaga hingga kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....