Nana, PKL Alun - alun Rangkasbitung yang Selalu Ceria
- 07 Apr 2026 20:35 WIB
- Banten
Poin Utama
- Nana PKL Alun - alun Rangkasbitung yang swlalu ceria
- Hangatnya kebersamaan PKL
- Berjualan untuk membantu ekonomi keluarga
RRI.CO.ID, Lebak - Terik matahari siang itu menyinari halaman Musium Multatuli, dengan cahaya yang menyengat. Suara riuh anak-anak dan para pengunjung bercampur dengan hiruk pikuk pedagang kaki lima yang berjajar di trotoar.
Di kawasan barat alun-alun Rangkasbitung, para pedagang sibuk menawarkan dagangan mereka. Es dingin, makanan ringan, hingga minuman kemasan menjadi andalan untuk menarik perhatian pejalan kaki yang hilir mudik. Di antara keramaian itu, tampak seorang perempuan paruh baya dengan senyum ramah yang tak pernah pudar.
Ia adalah Nana (53), penjual minuman yang dengan penuh semangat menawarkan air mineral dan minuman serbuk instan kepada setiap orang yang lewat. Sambil sesekali menyeka keringat, Nana tetap tersenyum. “Yang penting tetap semangat, rezeki pasti ada,” ujarnya ringan sambil menata botol minuman di lapaknya, Selasa, 7 April 2026.
Perempuan yang telah berjualan sejak 2006 ini mengaku memilih berdagang untuk membantu perekonomian keluarga. “Saya ingin bantu suami. Kalau cuma mengandalkan satu penghasilan, rasanya berat,” katanya.
Sebagai ibu dari enam anak dan nenek dari enam cucu, Nana merasa pekerjaannya memberinya keleluasaan. “Dengan jualan begini, saya bisa atur waktu sendiri. Rumah tangga juga tetap terurus,” ucapnya.
Tak jauh dari lapak Nana, berdiri gerobak kopi milik suaminya, Idrus (55). Pria itu tampak sibuk meracik minuman untuk pembeli yang datang silih berganti.
Idrus mengaku baru dua tahun berjualan kopi di depan museum. Sebelumnya, ia bekerja sebagai koki di rumah makan Padang di Jakarta. “Saya tidak punya modal besar, jadi pilih jualan yang sederhana saja,” katanya.
Meski begitu, Idrus mengaku bangga memiliki istri seperti Nana. “Istri saya tidak pernah menuntut macam-macam. Yang penting kami saling mendukung,” ucapnya dengan nada penuh syukur.
Menurutnya, kehidupan rumah tangga tak selalu berjalan mulus. “Namanya juga rumah tangga, pasti ada saja pertengkaran. Tapi itu biasa, justru jadi bumbu supaya lebih kuat,” ujarnya sambil tersenyum.
Di sisi lain, Edi (60), kakak kandung Nana, juga ikut meramaikan suasana dengan berjualan telur gulung tepat di sebelah lapak Nana. Kehadiran mereka bertiga menambah kehangatan di tengah kerasnya kehidupan.
Edi mengenang kedekatannya dengan sang adik sejak kecil. “Dari dulu kami selalu akur, walaupun hidup serba kekurangan,” ujarnya.
Ia juga menggambarkan sosok Nana sebagai pribadi yang ceria. “Nana itu orangnya suka bercanda. Jadi walau susah, kami tetap bisa tertawa,” katanya sambil melayani pembeli.
Di usia yang tak lagi muda, Nana, Idrus, dan Edi terus berjuang menjalani hari. “Harapan kami sederhana, yang penting tetap rukun, sehat, dan cukup rezeki,” kata Nana menutup perbincangan, sembari kembali menawarkan dagangannya kepada pengunjung yang melintas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....