Perjalanan Irawati Bertahan Merawat Tradisi Bordir Tangan Khas Aceh

  • 11 Mei 2026 19:59 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Di era serba instan, Irawati, owner Ira Bordir Aceh, memilih jalan berbeda. Ia bertahan merawat tradisi bordir tangan khas Aceh di tengah dominasi mesin dan produk impor. Bagi Irawati, setiap tusukan benang bukan sekadar hiasan kain, tapi upaya menjahit masa depan budaya, Hal tersebut di Sanpaikan saat diwawancara RRI, Senin 27 April 2026

Ira Bordir Aceh dirintis Irawati dari ruang tamu rumahnya di Banda Aceh pada 2012. Bermodal mesin jahit tua dan keterampilan yang diwarisi dari neneknya, ia mulai menerima pesanan bordir untuk baju kurung, mukena, dan atribut adat Aceh.

"Motif Aceh itu kaya makna. Ada pucuk rebung, pintu Aceh, bunga jeumpa. Sayang kalau hilang karena kita malas belajar," kata Irawati,

Kini Ira Bordir Aceh mempekerjakan 8 perajin perempuan dan rutin memasok baju bordir untuk acara adat, wisuda, hingga seragam dinas. Ciri khasnya: tetap pakai teknik bordir tangan untuk detail utama, meski proses pemasarannya sudah lewat Instagram dan TikTok.

Menurut Irawati, masalah utama bukan di pasar, tapi di penerus. Anak muda menganggap menjahit itu pekerjaan lambat dan kurang bergengsi.

Karena itu, sejak 2024 Ira Bordir Aceh buka "Kelas Merajut Asa" tiap Sabtu. Remaja putri dan ibu rumah tangga di sekitar Banda Aceh diajak belajar gratis. Materinya dari teknik dasar, mengenal motif Aceh, sampai cara foto produk biar laku online.

"Alhamdulillah sudah 25 orang lulus. Ada yang buka usaha sendiri di rumah. Itu artinya tradisi ini punya masa depan," ujar Irawati.

Irawati tidak menolak mesin. Untuk pesanan massal, ia pakai bordir komputer. Tapi untuk koleksi premium "Warisan Nendatu", semua dikerjakan tangan. Satu baju bisa selesai 5 sampai 10 hari. Harganya lebih tinggi, tapi peminatnya justru dari kalangan kolektor dan diaspora Aceh di Malaysia.

"Kalau semua disamakan dengan mesin, nilai budayanya hilang. Kita harus pintar pilih: mana yang dipertahankan, mana yang diadaptasi," tegasnya.

Irawati berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih ke perajin tradisional lewat pelatihan, akses modal, dan kurasi produk untuk masuk hotel atau bandara. Ia juga mengajak anak muda Aceh bangga memakai produk lokal.

"Menjaga tradisi itu bukan berarti anti maju. Kita jahit masa depan Aceh dengan benang warisan. Kalau bukan kita, siapa lagi," tutup Irawati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....