PENAS-KTNA, Momentum Kebangkitan UMKM dan Ekonomi Kabupaten Gorontalo
- 07 Mei 2026 11:31 WIB
- Gorontalo
RRI CO.ID, Gorontalo - Kabupaten Gorontalo dinilai tengah memasuki fase baru pembangunan ekonomi daerah yang tidak lagi hanya bertumpu pada sektor pertanian tradisional dan belanja pemerintah. Aktivasi ruang publik, pelaksanaan event nasional, serta penguatan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mulai menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang lebih dinamis.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Herwin Mopangga, yang juga merupakan Peneliti Mitra Bank Indonesia dan Kanwil DJPb Provinsi Gorontalo. Menurutnya, pembangunan ekonomi daerah tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau industrialisasi skala masif. Aktivitas keramaian publik dan mobilitas manusia justru dapat menciptakan efek pengganda ekonomi secara cepat di tingkat masyarakat.
Ia menjelaskan, konsep tersebut sejalan dengan teori ekonom Joseph Schumpeter dalam bukunya Theorie der wirtschaftlichen Entwicklung tahun 1911 yang menekankan pentingnya inovasi dan kewirausahaan sebagai motor pembangunan ekonomi. Dalam konteks daerah, UMKM menjadi sektor paling adaptif dalam menangkap peluang dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
“Keramaian dan mobilitas manusia merupakan modal ekonomi baru yang mampu menciptakan multiplier effect. Uang yang dibelanjakan pengunjung akan terus berputar ke berbagai sektor mulai dari pedagang kecil, petani, nelayan, jasa transportasi hingga konsumsi rumah tangga masyarakat,” ujar Herwin.
Menurutnya, gejala perubahan ekonomi tersebut mulai terlihat di Kabupaten Gorontalo pasca pelaksanaan Peran Saka Nasional Pramuka tahun 2025. Kegiatan nasional itu dinilai berhasil menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan Menara Pakaya Limboto yang kini semakin ramai dipadati pelaku UMKM, pedagang kuliner, usaha kreatif, hingga aktivitas ekonomi informal lainnya.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo dinilai cukup jeli membaca momentum tersebut. Menara Pakaya yang sebelumnya hanya dikenal sebagai ikon daerah kini mulai diarahkan menjadi kawasan produktif melalui revitalisasi dan kerja sama pengelolaan dengan pihak swasta. Kawasan itu diproyeksikan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus ruang wisata perkotaan baru.
Herwin menilai langkah tersebut penting karena banyak daerah gagal mengelola aset publik menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Menara Pakaya justru memiliki peluang besar karena berada di pusat aktivitas masyarakat Limboto dan didukung meningkatnya kegiatan nasional di daerah tersebut.
Momentum yang dinilai jauh lebih besar, lanjutnya, adalah pelaksanaan Pekan Nasional Petani Nelayan Andalan (PENAS-KTNA) XVII yang akan digelar pada 20 hingga 25 Juni 2026 di Kabupaten Gorontalo. Event nasional tersebut diperkirakan dihadiri puluhan ribu peserta dari seluruh Indonesia dan diyakini mampu menciptakan lonjakan aktivitas ekonomi masyarakat.
“PENAS bukan hanya agenda pertanian dan perikanan semata, tetapi momentum ekonomi regional berskala besar. Kehadiran peserta dalam jumlah besar akan menggerakkan sektor penginapan, makanan dan minuman, transportasi, perdagangan, jasa komunikasi, ekonomi kreatif hingga UMKM lokal,” jelasnya.
Pemerintah daerah sendiri telah menyiapkan ribuan rumah warga sebagai homestay bagi peserta kegiatan. DPRD Kabupaten Gorontalo juga optimistis PENAS XVII mampu mendongkrak ekonomi masyarakat melalui percepatan perputaran uang selama kegiatan berlangsung.
Meski demikian, Herwin mengingatkan tantangan terbesar bukan hanya sukses penyelenggaraan acara, melainkan bagaimana menjaga dampak ekonomi agar tetap berlanjut setelah event selesai. Ia menilai banyak daerah berhasil menjadi tuan rumah kegiatan nasional, namun gagal menciptakan manfaat ekonomi jangka panjang.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah mulai menyiapkan UMKM sejak sekarang melalui peningkatan kualitas produk, perbaikan kemasan, perluasan digitalisasi pembayaran, penguatan promosi daerah, hingga menjaga kebersihan kawasan publik. Produk unggulan Gorontalo seperti kuliner khas, olahan jagung, produk perikanan, Karawo, kopi, pisang, kacang tanah lokal, hingga ekonomi kreatif anak muda dinilai harus tampil sebagai identitas daerah.
Dalam jangka panjang, PENAS 2026 juga dinilai dapat menjadi titik awal transformasi struktur ekonomi Kabupaten Gorontalo. Ketergantungan terhadap sektor primer pertanian tradisional perlu diimbangi dengan pengembangan sektor jasa, UMKM, ekonomi kreatif, dan wisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Herwin menambahkan, kawasan Limboto dan Menara Pakaya ke depan berpotensi berkembang bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pusat ekonomi kreatif dan ruang interaksi publik masyarakat. Jika terus dihidupkan dengan event, festival budaya, ruang kuliner, serta aktivitas komunitas, maka ekonomi lokal Kabupaten Gorontalo diyakini akan bergerak lebih dinamis. (RA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....