Gejolak Selat Hormuz, DPR Pantau Mitigasi Menteri ESDM Jaga Pasokan Migas

  • 04 Mar 2026 13:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi XII DPR RI merespons, langkah Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia melakukan mitigasi potensi gangguan pasokan migas dunia. Terutama, akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada akses pelayaran di Selat Hormuz.

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengatakan, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis dunia. Karena, sekitar 20 persen suplai minyak global melewati kawasan tersebut.

"Mendukung langkah Menteri ESDM yang telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan pasokan energi nasional. Dalam situasi geopolitik global yang dinamis, upaya antisipatif seperti ini sangat penting agar ketahanan energi Indonesia tetap terjaga," kata politikus Golkar ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Apabila jalur perdagangan di Selat Hormuz terganggu, diakui Bambang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah. Tetapi juga, turut dirasakan oleh negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Ia menjelaskan, saat ini Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas energi dari kawasan Timur Tengah. Termasuk, crude oil serta LPG dari Arab Saudi.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa berspekulasi mengenai berapa lama potensi gangguan di Selat Hormuz dapat berlangsung. Sehingga, langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini.

Ia menilai, diversifikasi sumber pasokan menjadi salah satu opsi penting agar Indonesia memiliki fleksibilitas. Yaitu, dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

"Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah memperluas sumber pasokan minyak dan gas dari negara-negara lain. Secara geopolitik lebih stabil, termasuk dari Amerika Serikat maupun negara produsen lain yang memiliki jalur distribusi lebih aman," ucap Bambang.

Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia memastikan, stok bahan bakar minyak (BBM) nasional masih dalam kondisi aman. Hal itu disampaikannya merespons dinamika geopolitik Timur Tengah dan isu penutupan Selat Hormuz.

“Masih cukup. Selama 20 hari ini,” kata Bahlil di Istana Negara Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Menurutnya, Indonesia masih melakukan impor minyak menjelang Lebaran. “Ini juga antisipasi tentang pasokan minyak dunia, karena bagaimanapun kita masih melakukan impor sebelum Lebaran,” kata Bahlil.

Ia mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan global secara cermat. Menurutnya, pergerakan harga minyak dunia mulai merespons ketegangan kawasan.

Bahlil mengatakan, hingga kini belum ada tekanan langsung terhadap subsidi energi. “Perlahan-lahan sebagian sudah ada perubahan harga naik,” ujarnya, merujuk pada kenaikan harga Minyak Mentah Brent.

“Sampai hari ini enggak ada masalah. Tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” ujarnya.

Ia menyampaikan langkah mitigasi akan dibahas dalam rapat Dewan Energi Nasional. Pemerintah akan menunggu hasil kajian sebelum menetapkan kebijakan lanjutan.

“Nanti, saya besok Insyaallah akan rapat Dewan Energi Nasional. Rapat dulu baru saya laporkan,” katanya. Ia memastikan hasil analisis dan kajian tersebut akan diumumkan setelah pembahasan selesai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....