Penyuluh Agama Katolik: Mengampuni Adalah Jalan Memutus Rantai Kebencian

  • 16 Jun 2026 21:46 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Penyuluh Agama Katolik, Febiyola Silangen, mengajak umat untuk menghayati ajaran Yesus tentang pengampunan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikannya dalam refleksi berdasarkan Injil Matius 5:39.

Yesus mengajarkan pembalasan bukan dalam bentuk dendam, melainkan pembalasan yang positif agar hati manusia tidak dikuasai oleh sakit hati, amarah, dan kebencian. Kejahatan tidak seharusnya dibalas dengan kejahatan, tetapi dengan cinta kasih yang membawa damai.

"Melalui ajaran ini, Yesus membentuk kita menjadi pribadi yang murah hati, rela mengalah, dan tidak egois. Hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi dipatahkan oleh Yesus untuk memutus rantai dendam yang tidak pernah berakhir," ujarnya dalam acara Mimbar Agama Katolik di Prosatu RRI Tahuna, (15/6/2026).

Ia mencontohkan peristiwa penembakan terhadap Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1981 di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Meski mengalami luka serius akibat tembakan Mehmet Ali Agca, Paus tetap menunjukkan kasih dan pengampunan kepada pelakunya.

"Bahkan Paus menyebut Agca sebagai saudara dan mengunjunginya di penjara. Sikap ini menjadi bukti nyata bahwa kasih memiliki kekuatan untuk membebaskan, bukan hanya korban tetapi juga pelaku dari belenggu kesalahan," ucapnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tidak luput dari pengalaman dilukai, baik melalui fitnah, hinaan, maupun perlakuan yang tidak adil. Situasi tersebut dapat terjadi dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat.

"Selalu ada ilalang yang tumbuh di antara gandum. Tantangannya adalah bagaimana kita tetap bertahan dan bertumbuh di tengah berbagai persoalan hidup," katanya.

Pesan Yesus dalam Matius 5:39 mengajak umat untuk tidak membalas kejahatan dengan kebencian, melainkan dengan pengampunan. Meskipun mengampuni bukan perkara mudah dan membutuhkan proses, sikap tersebut merupakan jalan menuju pemulihan batin.

"Dengan mengalah, meredam amarah, dan meneladani Kristus, luka hati perlahan dapat disembuhkan. Apa yang kita alami tidak sebanding dengan penderitaan yang ditanggung Yesus dan para rasul-Nya demi kasih,"ujar Febiyola.

Ia berharap umat Katolik semakin berani menjadi pembawa damai di tengah masyarakat dengan mengedepankan kasih, kesabaran, dan pengampunan dalam setiap relasi kehidupan. (alvrina)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....