Akademisi Polnustar Desak Pemda Sangihe Lakukan Trauma Healing Korban Gempa Bumi
- 10 Jun 2026 12:51 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna : Setiap bencana yang terjadi akan membawah trauma pada siapa saja yang mengalaminya. Seperti peristiwa bencana gempa bumi tektonik magnitudo 7,7 pada Senin 8 Juni 2026 pagi di kabupaten kepulauan Sangihe. Pasca getaran dasyat, masyarakat langsung panik dan berusaha menyelamatkan diri secara mandiri ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari tsunami. Masyarakat yang mengungsi bahkan setelah dua hari pasca gempa bumi, baru kembali kerumah mereka. Sedangkan bagi masyarakat di pulau Matatuang, Kawaluso dan Marore yang rumah rusak parah, masih bertahan di tenda darurat. Korban gempa bumi mengaku masih takut dan trauma kembali kerumah pasca gempa utama karena gempa susulan masih saja terjadi. Mereka juga enggan kembali karena sebagian besar kondisi rumah sudah retak bahkan ada yang runtuh. Di Pulau Matutuang, Kawaluso dan Marore banyak rumah warga yang roboh karena di tiga pulau terluar itu dekat dengan pusat gempa bumi.
Melihat dampak gempa bumi yang terjadi di kabupaten kepulauan Sangihe, guru besar Fakultas Kelautan Politeknik Nusa Utara (Polnustar) Prof DR Frans Gruber Ijong desak pemerintah Sangihe segera lakukan program trauma healing atau proses pemulihan untuk membantu korban mengatasi gangguan psikologi, emosional, dan luka batin akibat kejadian traumatis pada masa lalu.
“Belajar dari bencana gempa bumi di Kobe Jepang tahun 1995 kebetulan saya lagi studi disana, yang dilakukan pemerintah Jepang pasca gempa bumi adalah program trauma healing. Sehingga korban tidak cemas atau takut lagi ketika ada gempa bumi” kata dosen perikanan di Unsrat Manado dan Polnustar itu.
Penetapan tanggap bencana Forum Komunikasi Pimpinan Daerah pemda Sangihe pada Selasa 9 Juni 2026, dinilai Ijong itu sebagai program selanjutnya termasuk mitigasi bencana. Tetapi mendesak yang harus dilakukan pemda saat ini melakukan trauma healing agar timbul kembali rasa percaya diri masyarakat menghadapi setiap bencana alam.

Menurut Frans Ijong, belajar dari sejarah maupun mempelajari geograf terutama kondisi laut di kabupaten kepulauan Sangihe bila terjadi gempa bumi megathrust, kecil kemungkinan terjadi tsunami. Pasalnya laut di wilayah kabupaten kepulauan Sangihe karakteristiknya sebagai laut dalam. Walaupun terjadi gempa dangkal.
“Laut kita disini mulai dari bibir pantai sudah laut dalam. Jadi kecil kemungkinan terjadi tsunami” tuturnya.
Berbeda dengan daerah lain di Indonesia atau di negara lain yang pesisir pantai laut dangkal, kondisi seperti itu air laut cepat tersedot mengisi patahan, selanjutnya keluar lagi dalam bentuk tsunami.(Alex D)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....