Mengenal Bakiak, Permainan Jadul yang Kini Hanya Muncul saat Agustusan

  • 20 Jul 2026 23:13 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Di tengah perkembangan zaman dan munculnya gadget yang menggantikan permainan jadul permainan tradisional kini makin jarang dijumpai dikehidupan sehari-hari, salah satunya bakiak atau terompah. Keberadaan mainan kayu ini bahkan terancam punah karena hanya muncul sekali dalam setahun saat momen perlombaan 17Agustus.

Permainan yang dikenal dengan nama terompah galuak di Sumatra Barat dan teklek di Jawa ini dimainkan oleh tiga hingga lima orang secara bersamaan. Menggunakan sepasang papan kayu panjang berpencepit ban bekas, para pemain dituntut melangkah seragan dari garis awal hingga garis akhir.

Ciri khas yang sangat melekat pada permainan ini adalah seruan “kanan-kiri” yang disorakkan bersama setim. Sorakkan itu menjadi kunci utama untuk menyamakan irama langkah agar seluruh regu tidak oleng dan terjatuh bersamaan, karena jika satu orang saja yang salah mengakibatkan semuanya terjatuh.

Selain menyajikan keseruan persaingan, balap bakiak menyimpan manfaat positif yang sangat besar untuk tumbuh kembang serta fisik anak. Aktivitas fisik ini fektid melatih koordinasi motorik, keseimbangan tubuh, menguatkan otot kaki, hingga mengasah aspek perkembangan sosial anak.

Permainan kompetitif ini juga mengajarkan nilai-nilai luhur seperti semangat gotong royong, kehati-hatian, konsentrasi, serta kedisiplinan dalam bekerja sama. Mengingat manfaatnya yang luar biasa, beberapa sekolah bahkan ada yang mengadopsi permainan ini ke dalam mata pelajaran olahraga.

Namun sayangnya, pemandangan anak-anak yang asyik memainkan permainan bakiak ini di halaman pemukiman warga kini hampir mustahil dijumpai. Tanpa adanya perayaan kemerdekaan atau kegiatan khusus, bakiak kini seolah tenggelam dan asing bagi generasi muda modern.

Pelestarian kembali bakiak menjadi pekerjaan rumag bersama agar warisan budaya yang penuh kehangatan sosial ini tidak benar-benar lenyap. Kehadirannya tidak boleh sekadar menjadi benda nostalgia tahunan, melainkan harus terus dikenalkan sebagai bagian dari identitas anak bangsa. (Kamilia Atiqah Zahra - UNPAK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....