Cara Eko Suwanto Kampanyekan Bijak Bermedsos: Perkaya Konten Kebudayaan
- 18 Jul 2026 09:01 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemandangan tak biasa di Aula Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY, Kamis, 16 Juli 2026. Alunan musik klenengan Ayun-Ayun Gobyog tiba-tiba menggema, disusul tayangan visual Warokan khas Temanggung-Wonosobo, tari Ganong, Reog Ponorogo, hingga cuplikan limbukan wayang kulit lakon almarhum Ki Seno Nugroho.
Bukan sedang menggelar pertunjukan seni, deretan video kebudayaan itu sengaja diputar oleh Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto. Politisi PDI Perjuangan ini punya gaya tersendiri untuk membetot perhatian ratusan mahasiswa Gen-Z Yogyakarta yang hadir dalam acara Diseminasi Konten Positif dan Literasi Keamanan Informasi bertajuk "Waspada Hoaks, Jaga Privasi Digital".
“Apakah ada yang baru pertama kali mendengar dan melhat. Rasanya kok mayoritas ya? Tapi di sini ada yang masih suka campursari,” katanya disambut senyum para peserta yang merupakan mahasiswa dari Yogyakarta itu.
Eko menyampaikan, betapa tayangan yang didokumentasikan di YouTube itu banyak ditonton orang, baik yang hadir langsung maupun melalui tayangan media sosial.
Kemudian Eko Suwanto yang dulu dikenal sebagai aktivis mahasiswa itu mengajaak peserta untuk diskusi. Di sinilah nuansa gayeng itu mengemuka. Eko menanyakan, apa sesungguhnya yang terpotret dari tiga tayangan tadi.
Sevi, mahasiswa asal Temanggung mengatakan, Warokan di Temanggung masih digandrungi anak-anak muda. Ini terjadi di tengah rata-rata anak muda main Tiktok yang menayangkan konten luar negeri.
Hadirnya Warokan yang dikreasi membuat anak muda menjadi tertarik. Ini mengobati rasa kehilangan seni budaya seperti Ketoprak.
“Kita ini sekarang kehilangan Ketoprak, padahal kita seharusnya mencintai budaya ini,” ucapnya.
Semakin riuh dengan susulan pendapat Rosyid, mahasiswa asal Wonosobo yang menyebutkan, melalui budaya Warokan yang sudah dikemas dan dicampur dengan lagu modern, membuat orang tertarik untuk menonton.
“Apalagi kalau kemudian mendatangkan artis, tambah ramai. Perpaduan gamelan dan organ yang bisa digunakan untuk menyanyi lagu apa saja itu membuat anak muda tertarik, mereka bisa joget-joget," ucapnya disambut riuh hadirin.
Mahasiswa asal Ponorogo, Wafiq mengungkapkan, Reog Ponorogo banyak yang nonton, terutama saat ditampilkan dengan banyak variasi seperti dalam Festival Reog Nasional yang digelar setiap tahun.
Menyimak pendapat anak-anak muda itu pun Eko Suwanto langsung mengapresiasinya. Mereka dinilai memiliki pengetahuan tentang seni budaya yang bagus sehingga pendapatnya pun keren. Ia membeberkan, sejatinya dari tiga tayangan tadi, kita sedang melihat apa yang terjadi di dunia maya.
"Berbagai kesenian tradisional ditampilkan, yang menonton banyak, itulah wajah ideal sosial media kita, qda alat musik yang berbeda, penari berbeda, ide gagasan berbeda, tapi menjadi satu harmoni yang menyenangkan dan membahagiakan. Ada yng tertarik dengan kebudayaannya, performnya, ya itulah wajah media sosial yang ideal untuk hari ini, harus begitu, di sana wajah menakutkan tidak ada,” ujarnya.
Sementara medsos hari ini, dijelaskan Eko Suwanto, memiliki isi yang bermacam-macam, bahkan,m lebih banyak disharmoni daripada harmoninya, hoaks jadi industri, penipuan online, hinggq judi online jadi industri. Di sisi lain, masih banyak yang berusaha keras menampilkan konten positif melalui produk kebudayaan.
“Banyak yang menyaksikan bagaimana produk kebudayaan melahirkan kreativitas untuk memproduksi dan mengaryakan konten positif,” katanya, mengungkapkan.
Eko Suwanto berpesan, agar mahasiswa mau memproduksi konten yang tidak melukai diri sendiri, orang lain dan diri sendiri-orang lain, tapi konten yang menyenangkan. Sehingga bisa membawa pesan positif dari balik layar setiap orang yang menyaksikan.
“Sekarang yang ngetren itu kuliner, menceritakan kuliner dari berbagai perspektif legend, murah, enak, tradisional dan hari ini kita harap Kominfo mendorong orang untuk melahirkan konten positif,” ujarnya penuh harap.
Di balik semua itu, ada konten positif yang sangat kuat. Dia mencontohkan konten Warokan yang ditonton 2,4 juta kali tayang. Padahal Warokan dipersepsikan sebagai tontonan orang tua, ternyata digandrungi netizen.
“Nah, konten tradisional mix dengan kekinian mampu menyedot animo. Jadi tidak ada lagi yang bisa membantah produk kebudayaan itu laku di anak muda, ini agak anomali,” katanya menganalisa.
Terakhir Eko Suwanto menyampaikan bahwa membangun konyen positif bukan hal yang sulit karena konten itu bahannya ada di sekitar kita, mengangkat apa yang ada di sekitar kita, mencitrakan positif seni, makanan dan lainnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....