Dapur Kehilangan Api: Nestapa Pangan dan Budaya

  • 18 Jul 2026 12:07 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID,Jayapura - Melansir Arina.id, dapur kehilangan api bukan sekadar kompor mati, melainkan ancaman serius bagi ketahanan pangan keluarga di rumah. Hilangnya akses memasak mandiri, membuat masyarakat bergantung pada makanan siap saji yang belum tentu higienis dan bergizi seimbang.

Dalam rumah tradisional Jawa, dapur menjadi ruang paling hidup dengan asap mengepul serta aroma masakan memenuhi sekitar. Dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan jantung kehidupan keluarga yang menghadirkan kehangatan, kebersamaan, dan keharmonisan setiap hari bersama.

Penelitian Jurnal Arsitektur 2024, menyebut dapur menjadi ruang berbincang antara anak, ibu, serta tetangga yang berkunjung. Suasana tersebut memperlihatkan dapur memiliki fungsi sosial sebagai tempat mempererat hubungan keluarga maupun masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, banyak rumah modern memiliki dapur sempit yang hanya berfungsi sebagai ruang memasak dengan fasilitas sederhana. Dapur kehilangan peran sebagai ruang sosial dan lebih dipandang sebagai fasilitas domestik, yang mengutamakan efisiensi aktivitas keluarga sehari-hari.

Badan Pangan Nasional, menegaskan kemandirian konsumsi keluarga berakar dari kebiasaan memasak yang efisien dan berkelanjutan setiap hari bersama. Ketika intensitas memasak menurun, pengeluaran rumah tangga meningkat. Kondisi ini, membuat stabilitas ekonomi keluarga menjadi semakin rentan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Perubahan dapur, mencerminkan pergeseran nilai kehidupan keluarga akibat modernisasi yang semakin mengutamakan efisiensi dibandingkan kebersamaan dalam rumah tangga. Kesibukan membuat masyarakat jarang memasak perlahan maupun berbincang hangat bersama keluarga di sekitar dapur setiap harinya lagi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....