Basiocuang Tradisi Lisan Sarat Makna Menjadi Warisan Budaya Masyarakat Kampar

  • 15 Jul 2026 15:29 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, memiliki beragam kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, salah satunya adalah Basiocuang. Tradisi ini merupakan seni bertutur khas masyarakat Melayu Kampar yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan adat sejak dahulu kala. Keberadaannya tidak hanya menjadi identitas budaya daerah, tetapi juga telah diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 264/M/2018 dalam kategori Tradisi dan Ekspresi Lisan. Pemerintah Kabupaten Kampar terus memperkenalkan Basiocuang sebagai warisan budaya yang mencerminkan jati diri masyarakat Kampar.

Dikutip dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, secara historis, Basiocuang berasal dari tradisi masyarakat Melayu Kampar yang berkembang dalam lingkungan para Datuk, Ninik Mamak, dan pemuka adat. Kata Basiocuang berasal dari kata siacuong atau acuong yang berarti saling menyanjung atau saling menghormati melalui tutur kata yang santun. Tradisi ini diwujudkan dalam bentuk dialog menggunakan bahasa adat yang dipenuhi petatah-petitih, pantun, perumpamaan, serta ungkapan yang sarat makna. Dahulu, kemampuan ber-Basiocuang menjadi syarat penting bagi seorang pemangku adat karena digunakan sebagai media bermusyawarah, menyampaikan nasihat, hingga menyelesaikan persoalan adat dengan bahasa yang halus dan penuh etika.

Dalam pelaksanaannya, Basiocuang umumnya ditampilkan pada berbagai prosesi adat masyarakat Kampar, seperti acara peminangan, pernikahan, khitanan, penyambutan tamu kehormatan, hingga musyawarah adat. Tradisi ini dilakukan secara bergantian antara perwakilan kedua belah pihak yang saling bertutur menggunakan bahasa kiasan dan penuh penghormatan. Melalui dialog tersebut, setiap pesan disampaikan dengan penuh kesantunan sehingga tercipta suasana musyawarah yang damai, menghargai lawan bicara, dan menjunjung tinggi nilai adat Melayu Kampar.

Lebih dari sekadar seni berbicara, Basiocuang mengandung nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga saat ini. Tradisi ini mengajarkan pentingnya sopan santun dalam berkomunikasi, menghormati orang tua dan tokoh adat, mempererat silaturahmi, membangun semangat musyawarah untuk mencapai mufakat, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling tolong-menolong. Nilai-nilai tersebut menjadikan Basiocuang sebagai media pendidikan karakter yang memperkuat identitas budaya masyarakat Kampar di tengah perkembangan zaman.

Sebagai upaya pelestarian, Pemerintah Kabupaten Kampar melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Perpustakaan dan Arsip, serta berbagai lembaga adat terus menyelenggarakan pelatihan, literasi budaya, dan pendidikan Basiocuang bagi generasi muda. Kegiatan tersebut melibatkan para Ninik Mamak, tokoh adat, pelajar, mahasiswa, hingga komunitas budaya agar tradisi lisan ini tetap hidup dan berkembang. Pemerintah daerah menegaskan bahwa pelestarian Basiocuang bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat jati diri budaya Kabupaten Kampar sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....