Sanggar Sastra RRI Palembang Rayakan 60 Tahun Perjalanan Berkarya

  • 15 Jul 2026 12:06 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Usia 60 tahun bukan sekadar angka tapi menjadi bukti panjangnya perjalanan Sanggar Sastra dalam melahirkan banyak penyair, penulis dan pembaca puisi di Sumatera Selatan.
  • Sanggar Sastra didirikan Buya Zainal Abidin Hanif dengan tekad yang kuat untuk menumbuhkan perkembangan sastra melalui siaran RRI Palembang dan semangat ini terus diwariskan sampai saat ini
  • generasi penerus untuk terus mencintai sastra sebagai bagian dari identitas budaya bangsa dan Sanggar Sastra terusla menjadi ruang berkarya dan melahirkan generasi penyair baru yang mampu menjaga warisan sastra Indonesia

RRI.CO.ID, Palembang - Sanggar Sastra RRI Palembang memasuki usia ke-60 sebagai ruang pembinaan penyair, penulis, dan pembaca puisi di Sumatera Selatan. Enam dekade perjalanan itu dinilai menjadi bukti konsistensi dalam menjaga perkembangan sastra di daerah.

Hal tersebut disampaikan Redaktur Sanggar Sastra, Rita Sumarni, saat menjadi narasumber program Sanggar Sastra di Studio Pro 1 RRI Palembang, Senin, 13 Juli 2026. Menurutnya, keberadaan Sanggar Sastra lahir melalui proses panjang dan semangat yang terus dijaga.

Rita menjelaskan Sanggar Sastra tidak terbentuk secara instan. Eksistensinya dibangun melalui dedikasi para pegiat sastra yang terus mewariskan semangat berkarya kepada generasi berikutnya.

"Bahkan Sanggar Sastra didirikan Buya Zainal Abidin Hanif dengan tekad yang kuat untuk menumbuhkan perkembangan sastra melalui siaran RRI Palembang dan semangat ini terus diwariskan sampai saat ini," ujarnya.

Menurut Rita, perjalanan sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para penyair nasional. Tokoh seperti Chairil Anwar, Taufik Ismail, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, hingga KH. Ahmad Mustofa Bisri menjadi inspirasi bagi perkembangan sastra di berbagai daerah.

Dalam kesempatan itu, Rita juga membacakan karya berjudul Sajak Tentang Cinta. Puisi tersebut menggambarkan cinta sebagai anugerah yang menghadirkan keindahan, keikhlasan, dan kesetiaan kepada Tuhan, keluarga, pasangan, serta sesama manusia.

Rita mengakui perjalanan Sanggar Sastra selama enam dekade tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah terbatasnya dokumentasi sejarah perjalanan organisasi.

Ia mengatakan sejumlah arsip penting hilang seiring wafatnya beberapa tokoh yang pernah berperan besar dalam Sanggar Sastra. Karena itu, penelusuran sejarah akan terus dilakukan agar jejak perjalanan Sanggar Sastra dapat terdokumentasi lebih lengkap.

Peringatan 60 tahun Sanggar Sastra diharapkan menjadi momentum memperkuat tradisi literasi di Sumatera Selatan. Keberadaan sanggar juga diharapkan terus melahirkan penyair, penulis, dan pegiat sastra yang mampu memperkaya khazanah sastra Indonesia.

Puisi lain yang turut dibacakan yaitu karya Buya Zainal Abidin Hanif berjudul Latansa. Puisi yang bermakna agar manusia tidak melupakan Tuhan, orang tua, nilai kehidupan dan tanggung jawab sosial.

"Diharapkan masyarakat terutama generasi penerus untuk terus mencintai sastra sebagai bagian dari identitas budaya bangsa dan Sanggar Sastra terusla menjadi ruang berkarya dan melahirkan generasi penyair baru yang mampu menjaga warisan sastra Indonesia," pesan Rita Sumarni menutup dialog.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....