Fenomena "Quiet Thriving": Hidup Biasa Saja, tapi Justru Lebih Bahagia
- 15 Jul 2026 03:19 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di era media sosial yang dipenuhi pencapaian, gaya hidup mewah, dan tuntutan untuk selalu berkembang, muncul sebuah fenomena yang dikenal sebagai quiet thriving. Istilah ini menggambarkan orang-orang yang memilih menjalani hidup dengan lebih sederhana, tanpa merasa perlu terus-menerus mengejar pengakuan atau menunjukkan kesuksesan kepada orang lain. Mereka tetap bekerja, belajar, dan berkembang, tetapi melakukannya sesuai dengan ritme serta tujuan hidup yang mereka anggap bermakna. Bagi banyak orang, kebahagiaan tidak lagi diukur dari seberapa sibuk atau seberapa terlihat sukses di mata publik.
Perubahan cara pandang ini banyak dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Tidak sedikit orang yang mulai mengurangi tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik atau mengikuti setiap tren yang sedang populer. Mereka lebih memilih memiliki waktu berkualitas bersama keluarga, menikmati hobi, menjaga kesehatan, atau sekadar beristirahat tanpa merasa bersalah. Pilihan tersebut bukan berarti kehilangan ambisi, melainkan menetapkan prioritas yang lebih sesuai dengan kebutuhan pribadi.
Berdasarkan berbagai penelitian mengenai kesejahteraan psikologis, kepuasan hidup, dan perilaku masyarakat modern yang dilansir dari berbagai sumber, kebahagiaan jangka panjang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan sosial yang sehat, rasa memiliki tujuan hidup, serta kemampuan mengelola stres dibandingkan oleh pencapaian materi semata. Ketika seseorang tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain, tingkat kepuasan hidup cenderung meningkat. Hal ini menjelaskan mengapa semakin banyak orang memilih menjalani kehidupan yang lebih tenang tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.
Meski demikian, quiet thriving bukan berarti berhenti bermimpi atau menolak kesuksesan. Seseorang tetap dapat memiliki target karier, membangun usaha, atau mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Perbedaannya terletak pada cara mereka mendefinisikan keberhasilan, yaitu berdasarkan nilai dan tujuan pribadi, bukan semata-mata berdasarkan ekspektasi lingkungan. Dengan begitu, proses bertumbuh terasa lebih sehat dan tidak dipenuhi tekanan yang berlebihan.
Fenomena quiet thriving menunjukkan bahwa hidup yang bahagia tidak selalu identik dengan kehidupan yang paling sibuk atau paling mencolok. Terkadang, kehidupan yang sederhana, penuh keseimbangan, dan dijalani dengan kesadaran justru memberikan kepuasan yang lebih mendalam. Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga tentang seberapa nyaman ia menjalani perjalanan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....